Kiat Belajar Bahasa Arab

 Bahasa Arab adalah bahasa kaum muslimin. Hingga akhir zaman nanti bahasa ini akan tetap langgeng sebab al-Qur`an dan hadits Rasulullah shalallahu`alahi wa sallam akan terus ada dan eksis hingga saat itu. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai kaum muslimin untuk mempelajarinya dan berusaha seoptimal mungkin untuk dapat menguasai kemahiran bahasa ini. Bahkan wajib bagi kita untuk mendalaminya sebagai sarana kita untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam.

Berikut kami paparkan kiat sukses dalam mempelajari bahasa Arab, dan tulisan ini kami sadurkan dari beberapa buku adab menuntu ilmu, materi-materi pelatihan pengajaran bahasa Arab untuk orang non Arab, jurnal pembelajaran bahasa Arab dan juga pengalaman pribadi penulis selama proses belajar bahasa Arab.
Penulis melihat kiat sukses ini dari dua sisi, pertama: sisi intern; yaitu dari dalam diri para pembelajar bahasa Arab; yang terdiri dari niat, tekad, senang dan sabar. Kedua: dari sisi ekstern; yaitu dari sisi bahasa Arab itu sendiri; yang terdiri dari bahasa adalah komunikasi, belajarlah bahasa itu dan biasakan belajar terbimbing.
Intern:
1. Niat
Niat merupakan pondasi penting yang harus kita tanyakan kepada diri kita sebelum kita melangkah lebih jauh. Kita sebagai seorang muslim patut dan harus menata kembali niat kita dalam setiap langkah untuk sebuah urusan kita, jangan sampai kita sudah melangkah begitu jauh, mengorbankan seluruh harta, jiwa, raga dan harta, namun sayang beribu sayang semua yang kita keluarkan sia-sia bagai debu berterbangan tiada artinya disebabkan karena niatnya yang kurang pas dan jauh melenceng dari tuntunan syari`at Islam. Sebagai seorang muslim, kita diberikan kemudahan oleh Allah ta`ala agar menjadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah, tentunya dengan niat semata-mata mengharap wajah dan ridha Allah subhanahu wa ta`ala. Kita ingat apa yang dikatakan oleh Sufyan Al-Tsauri rahimahullah:
“ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي”
“Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagiku kecuali niatku”1.

Dalam mempelajari bahasa Arab, niat awal kita tentunya hanya untuk mengharap wajah Allah ta`ala. Belajar bahasa Arab bukan untuk riya`, pamer, biar dikatakan syekh Arab, bukan pula untuk tujuan duniawi, menambah sisi materi, atau untuk mengangkat harga diri dan lain sebagainya. Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam bersabda:

« من تعلم علمًا يبتغي به وجه الله – عز وجل – لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضًا من الدنيا
لم يجد عرف الجنة يوم القيامة »
“Barang siapa yang belajar suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah `azza wa jalla, kemudian dia tidak belajar kecuali hanya untuk mendapatkan secuil dari urusan dunia, maka sedikitpun dia tidak akan mendapatkan bau harumnya surge”2.
Perlu diingat, bahwa ketika kita belajar bahasa Arab, kita tidak hanya belajar bahasa Arab itu semata, namun sambil belajar kita juga berharap dapat meningkatkan kualitas pengetahuan keislaman kita dan pengetahuan umum yang tidak bertentangan dengan syari`at Islam3.
2. Tekad
Sebuah rencana pasti mempunyai tujuan, untuk mencapai tujuan tersebut harus bermodalkan tekad yang kuat dan bersungguh-sungguh, terus berjuang pantang menyerah. Ada sebuah ungkapan Arab yang mengatakan:
فإن العلم لا يُنَال براحة الجسم
“ Bahwa Ilmu itu tidak akan pernah didapat dengan bersantai-santai”.
Kita lihat bagaimana kisah Imam Al-Kasa`I, Imam penduduk Kufah dalam ilmu Nahwu. Ketika beliau memulai belajar nahwu, beliau merasa tidak pernah bisa dan hampir putus asa, suatu hari beliau melihat seekor semut merangkak di dinding membawa sepotong makanan, ketika mulai merangkak dia terjatuh, lalu bangun kembali, membawa makanan tadi dan terus merambat ke dinding, dia terus berusaha dan bertekad untuk terus membawa makan tersebut dan berjalan. Imam al-Kasa`I berkata: “Semut ini begitu kuat tekadnya hingga sampai ke tujuan”, maka beliau pun terus berjuang dan akhirnya menjadi Imam dalam ilmu nahwu4.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan:
من جدّ وجد
“Barang siapa bersungguh-sungguh pasti ia akan mendapatkan”.
Fenomena perjalanan dalam mempelajari bahasa Arab, orang akan terlihat begitu semangat dan menggebu-nggebu diawal-awal belajar, namun setelah dua atau tiga pekan berjalan, akan terjadi seleksi alami, satu persatu berguguran absen tidak bisa ikut belajar bahasa Arab. Maka dari sini perlunya tekad yang bulat dan kesungguhan dalam belajar bahasa Arab untuk mencapai tujuan yang kita cita-citakan.
3. Senang
Kecintaan kapada bahasa Arab menjadi sebuah harga mati sebagai sarana untuk meraih kesuksesan dalam mempelajarinya. Seseorang yang memiliki kecintaan kepada sesuatu atau kepada seseorang pasti dia akan mengelu-elukannya, dan terus berusaha untuk bisa mendapatkannya walaupun harus berkorban, baik waktu, biaya maupun tenaga. Orang yang senang dengan salah satu mata kuliah pasti dia akan rajin masuk kelas walau kadang lagi sakit, merasa rugi kalau ketinggalan, merasa mudah dan cepat memahaminya serta hari-harinya pun tidak terlepas dari pembicaraan isi mata kuliah tersebut.
Lebih-lebih kita sebagai seorang muslim, seharusnya kita harus lebih mencintai dan bangga dengan bahasa Arab dibanding bahasa asing lainnya, sebab bahasa Arab adalah bahasanya umat Islam, bahasa al-Qur`an, bahasa wahyu Allah, bahasa para penduduk surga. Lalu apakah layak kita lebih mencintai bahasa asing selain bahasa Arab?
Coba kita melihat sejenak bagaimana para ulama Islam terdahulu, yang mungkin nama-nama mereka sering kita dengar seperti Sibawaih, al-Zamakhsyari, al-khowarizmi, apakah mereka orang-orang Arab yang tadinya mahir berbahasa Arab? Jawabannya ternyata mereka bukan orang Arab dan awalnya tidak bisa berbahasa Arab. Namun mereka terus belajar karena mereka seorang muslim dan mereka mencintai bahasa Arab.
Al-Khowarizmi pernah mengatakan: “Demi Allah, kefasihanku terhadap bahasa Arab lebih aku cintai dari pada kebanggaanku terhadap bahasa Persia”5.
4. Sabar
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ “Sabar itu Indah” begitulah Allah ta`ala menyebutnya dalam surat Yusuf ayat 18. Yang mengenarai begitu pentingnya kedudukan sabar dalam kehidupan kita.
Ketika belajar bahasa Arab, kita perlu mempertebal kesabaran, jangan mudah jenuh, bosan dan menjauhkan rasa malas dari diri kita. Tidak mungkin orang akan membangun rumah langsung dari atapnya, pasti dia akan memulai membangun dari pondasi yang kuat dan kokoh. Dipermulaan belajar bahasa Arab kita akan belajar dari materi-materi dasar terlebih dahulu, kemudian baru masuk ke materi yang lebih tinggi dan begitu seterusnya, kita akan memulainya dari jilid satu, dua dan seterusnya. Dan tidak akan pernah loncat dari satu jilid ke jilid yang lain kecuali dengan berurutan. Dalam kaidah bahasa Arab disebutkan:
من لم يتقن الأصول؛ حرم الوصول
“Barang siapa yang tidak kuat dasar ilmunya, maka dia akan terhalang untuk sampai kepada ilmu yang ia pelajari”6.

Ekstern:
5. Bahasa adalah komunikasi:
Pemerolehan bahasa yang dialami oleh setiap orang dimasa kecilnya dari bahasa ibunya (bahasa aslinya) adalah melalui proses tanpa dirasakan dan tanpa disengaja, karena ketika seseorang belajar bahasa ibunya dia belajar secara alami, biasa dan tidak terlalu memperhatikannya7. Dia belajar bagaimana berucap dan berujar kata perkata kemudian kalimat perkalimat tanpa memikirkan kaidahnya apakah benar atau salah. Yang intinya bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan orang lain baik dengan orang Arab maupun dengan orang non Arab, bisa saling memahami dan dapat dipahami.
Oleh karenanya awal mula kita belajar bahasa Arab, ibarat kita anak kecil yang sedang belajar bahasa ibu kita, jangan terlebih dahulu mempelajari nahwu, sharaf atau kaidah bahasa yang membuat kita tersendat untuk terus belajar karena merasa sulit, ruwet, susah, membingungkan dan lain sebagainya. Maka perlunya kita memperhatikan hal-hal berikut:
a) Unsur bahasa8
Dalam mempelajari bahasa Arab hendaknya kita mengetahui dan memperhatikan tiga unsur bahasa, yaitu:
i. Al-Ashwat
Al-Ashwat adalah suara, yaitu bagaimana kita mengucapkan bunyi suara dalam bahasa Arab dengan baik dan benar sebagaimana orang-orang Arab mengucapkannya. Inti dari mempelajari al-Ashwat ini adalah kita bisa mengerti suara atau bunyi tersebut, bisa membedakan antara satu bunyi dengan bunyi yang lain dan bisa mengimplementasikannya dalam bentuk lain9.
Oleh karenanya diawal kita belajar bahasa Arab, kita akan sering dan terus berucap, berujar dan bahkan tidak jarang kita akan berteriak-teriak untuk melafadzkan huruf, kata atau kalimat dalam bahasa Arab.
ii. Al-Mufradat
Kosa-kata menjadi kebutuhan pokok ketika belajar bahasa Arab. Bagaimana mungkin kita bisa berbicara kalau kita tidak memiliki kosa-kata?, bagaimana mungkin kita akan membuat satu kalimat kalau kita tidak menghafal satu persatu kosa-kata yang kita temui ketika kita belajar bahasa Arab.
Siapkan buku kecil atau kertas khusus untuk kita menulis setiap kosa-kata yang kita temui, bedakan dan sendirikan antara kata kerja dengan kata benda atau kata sifat. Dalam menulis kata kerja tulis juga bentuk madhi dan mudhari`nya, begitu juga dalam menulis kata benda tulis bentuk mufrad dan jama`nya.
iii. Al-Tarakib
Setelah kita mempelajari al-Ashwat dan al-Mufradat yang kita lalui perlu kiranya kita juga mulai memulai mempelajari kaidah-kaidah dalam bahasa Arab, atau bisa juga sambil belajar al-ashwat dan al-mufradat kita juga belajar al-tarakib. Kita mulai dari kaidah yang dirasa mudah dan sering digunakan kemudian meningkat terus sampai kaidah yang paling sulit. Dalam mempelajari kaidah ini perlu juga kita praktikkannya dengan membuat kalimat-kalimat dalam bahasa Arab10.
b) Kemahiran bahasa11:
Ketika kita belajar bahasa Arab, tidak cukup kita dikatakan bisa berbahasa Arab kalau kita hanya belajar kaidahnya, atau hanya belajar kosa-katanya, atau hanya bisa mengucapkan kata-katanya, atau juga kita sudah bisa menulis tulisannya. Namun kita bisa dikatakan bisa berbahasa Arab ketika kita bisa menggabungkan hal itu semua, sehingga akan menghasilkan empat kemahiran bahasa. Yaitu:
i. Istima`
Kemahiran istima` adalah kemampuan kita memahami sebuah ungkapan kata atau kalimat melalui pendengaran kita. Semakin sering kita mendengarkan orang lain berbicara bahasa Arab akan semakin bertambah pula kemahiran istima` kita.
ii. Kalam
Dapat berbicara dalam bahasa Arab merupakan salah satu bentuk kemahiran berbahasa. Yaitu dengan cara mengucapkan huruf, kata atau kalimat dengan benar dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab, serta ucapan kita pun dapat dipahami orang lain.
iii. Qira`ah
Qira`ah adalah kemahiran kita dalam memahami sebuah teks bacaan. Kemahiran ini bisa kita lakukan kapan saja, bisa di dalam kelas mau di luar kelas, bisa kita membaca majalah, Koran, buku ataupun juga informasi berbahasa Arab yang ada di internet.
iv. Kitabah
Bentuk terakhir dari kemahiran bahasa Adalah kemahiran menulis dengan bahasa Arab, kemahiran ini adalah gabungan dari dua unsur, yaitu unsur gerakan atau bakat penulisan huruf perhuruf atau kata perkata dalam bahasa Arab, juga unsur kognitif, yaitu kemampuan mengaplikasikan kaidah, mufradat, dan penggunaan bahasa yang dituangkan dalam bentuk kalimat atau paragraf12.
6. Jangan belajar apa itu bahasa, tapi belajarlah bahasa itu13.
Poin keenam dari kiat sukses berbahasa Arab ini adalah jangan sampai ketika kita belajar bahasa Arab kita belajar apa itu bahasa, artinya jangan terlalu menyibukkan diri dengan mendalami dan menghafal definisi-definisi yang terkait dengan kaidah bahasa Arab. Sebab yang terpenting adalah memahami definisi tersebut lalu mencoba mengaplikasikannya dalam sebuah kalimat.
Poin keenam ini erat kaitannya dengan unsur bahasa dan kemahiran bahasa yang telah disebutkan di atas. Maka dari sinilah pentingnya menanamkan pada diri kita bahwa belajar bahasa Arab itu perlu menyeluruh jangan sepotong-potong.
7. Belajar terbimbing:
Pentingnya guru
Hukum asal dalam menuntut sebuah ilmu adalah melalui seorang guru bukan belajar otodidak melalui sebuah buku. Ada yang mengatakan:
من دخل في العلم وحده؛ خرج وحده
“Barang siapa yang masuk ke dalam sebuah dengan sendirian maka dia akan keluar dengan sendirian pula”
Maksud adalah barang siapa yang menuntu ilmu sendirian tanpa memiliki seorang guru, maka dia akan keluar darinya tanpa memiliki ilmu14.
Maka sudah menjadi kelaziman dalam menuntu ilmu, kita perlu seorang guru untuk mendapatkan hasil yang maksimal, jangan pernah belajar bahasa Arab secara sendiri maupun otodidak dengan mengandalkan sebuah buku saja tanpa ada seorang guru.
Buku panduan bahasa Arab untuk orang non Arab
Buku bahasa Arab yang integral dan mencakup semua aspek kemahiran bahasa, tentunya adalah buku bahasa Arab karya orang-orang Arab sebagai pemilik bahasa. Karena mereka lebih mengerti, memahami dan lebih menguasai bahasa mereka dibandingkan orang-orang non Arab. Mereka juga lebih tau model, metode dan strategi pembelajaran bahasa Arab yang cocok untuk orang-orang non Arab demi tercapainya empat kemahiran bahasa. Sebagai contoh adalah buku yang diterbitkan oleh Al-`Arabiyah Li Al-Jami` Riyadh Arab Saudi yang berjudul “al-Arabiyatu baina yadaik silsilatu ta`limi al-Lughah al-`Arabiyah lighairi al-Nathiqina biha”, yang terdiri dari tiga jilid yang didesaign khusus untuk orang-orang non Arab.
Perlunya partner
Disaat kita belajar bahasa Arab maupun sesudahnya kita butuh partner untuk menjaga kemahiran bahasa Arab kita. Kita perlu teman untuk kita ajak berbicara untuk mengasah kemahiran istima` dan kalam kita, kita butuh buku untuk menguatkan kemampuan qira`ah dan kitabah kita. Sebab tanpa adanya partner, kemahiran bahasa Arab kita akan sedikit demi sedikit terkikis dan lama kelamaan akan habis dan hilang dari diri kita.
Dengan adanya partner ini akan menggugah semangat kita untuk terus belajar dan mengembangkan kemahiran bahasa kita, juga akan menghilangkan rasa malu untuk terus mencoba belajar mempraktekkan istima`, kalam, qira`ah dan kitabah kita.
Lingkungan sangat mendukung
Hal yang terpenting dalam poin ini adalah lingkungan atau bi`ah lughawiyah yang dapat menjaga eksistensi kemahiran bahasa kita. Jangan pernah merasa aman dengan pelajaran bahasa Arab yang pernah kita dapatkan lalu kita diam sendirian tanpa mencari bi`ah lughawiyah, atau lembaga bahasa Arab sebab dalam waktu yang sangat singkat kemahiran bahasa yang kita miliki bisa hilang tanpa ada sisa sedikitpun.

Dari paparan di atas kita semakin mengerti bahwa untuk meraih kesuksesan dalam mempelajari bahasa Arab tidak hanya bermodalkan keinginan maupun kesempatan, namun juga perlu tekad, cinta, dan sabar sebagai jembatan untuk menguasai dan mendalami bahasa Arab dengan fasih dan benar, yang itu semua dibungkus dalam niat yang benar pula semata-mata mengharap ridha Allah ta`ala sehingga apa yang kita lakukan mendapatkan pahala dan bisa bernilai ibadah.
Mengetahui dan memahami faktor bahasa juga akan mendukung kemahiran kita berbahasa Arab. Image awal dalam benak kita, bahwa kita akan belajar bahasa itu secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, dan bahasa itu sebagai sarana komunikasi baik dari sisi istima`, kalam, qira`ah maupun kitabah, dimana kemahiran itu merupakan bentuk implementasi dari penguasaan kita terhadap al-ashwat, al-mufradat dan al-tarakib, mustahil kita bisa berbahasa Arab kalau kita tidak memiliki ketiga unsur bahasa tersebut. Dan untuk mendukung proses belajar bahasa Arab tersebut kita perlu bimbingan guru, buku panduan yang komprehensif, partner serta lingkungan atau lembaga bahasa Arab yang kompeten.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.