DETIK-DETIK TERAKHIR KEHIDUPAN RASULULLAH

I. Detik-detik Terakhir Peristiwa Tentang wafatnya Rasulullah SAW

Peristiwa tentang wafatnya seorang pemimpin alam semesta, seorang Nabi dan Seorang Rosul Tuhan yang terakhir adalah peristiwa maha besar. Tidak ada sejarah yang telah mengungkapkan peristiwa yang mendetail sedemikian rupa tentang berpulangnya seorang Rosul Tuhan seperti halnya dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW itu.

Isyarat-isyarat tentang bayang-bayang akan terjadinya peristiwa besar yang sangat mengharukan hati itu telah terlebih dahulu memperlihatkan tanda-tandanya kepada ummat pengikut beliau.

Isyarat itu antara lain terlukis dalam bunyi Khutbah Arafah oleh Rasulullah, dan juga bunyi Firman Allah SWT sebagai Wahyu Tuhan yang terakhir yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, dikala beliau menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima sebagai Haji Perpisahan

Pada hari ini Aku (Allah) sempurnakan bagimu Agamamu, Aku cukupkan nikmatKu untukmu dan Aku rela Islam sebagai agamamu” (Al-Qur’an, Al-Maidah ayat 3)

Khutbah Arafah

Setelah mencucurkan keringat, darah dan air mata berpuluh-puluh tahun lamanya (23 tahun), berjuang dengan sekuat tenaga daya dan kesungguhan dan berdakwah memberantas penyakit-penyakita jaman jahiliah, zaman kebodohan ummat di kala itu, memanggil manusia ke jalan Tuhan, berjihad menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan Ilahi, maka akhirnya berhasillah beliau dalam menunaikan misi sucinya, menegakkan Islam sebagai agama wahyu satu-satunya yang dipilih Tuhan untuk ummat manusia di bawah
langit ini.

Setelah berhala-berhala, patung-patung ciptaan zaman jahiliah itu diruntuh-ratakan sebagai lambang kemusyrikan; setelah penyakit syirik terbongkar dari dada ummat manusia, dan kemudian di isi beliau dengan air hikmah, Iman dan Tauhid yang murni, maka terasalah bagi beliau, ia tak akan
lama lagi akan dipanggil oleh Tuhan ke HadiratNya, berpisah dengan ummat yang sedang dibina dan dipimpinnya dengan sukses gilang-gemilang itu

Maka demikianlah, pada musim haji tahun ke-10 hijriah, bersama-sama kurang lebih 114.000 kaum muslimin yang datang dari segenap penjuru Arabia, beliau pun menunaikan ibadah Haji Akbar yang bagi beliau sendiri adalah merupakan Haji Perpisahan (wada’) haji terakhir, karena beliau tidak dapat lagi
bersama ummatnya menunaikan ibadah suci itu pada tahun mendatang.

Dalam Haji Wada’ inilah beliau menyampaikan mutiara wasiat yang dianggap sangat berharga bagi ummat beliau, disamping itu juga menyelipkan ultimatum Tuhan kepada kaum Musyrikin, bahwa Allah dan RasulNya telah memutuskan hubungan dengan mereka, karena aqidah mereka adalah bernoda dan najis.
Dan sejak tahun ke-9 Hijriah telah dibuat tapal batas tanah suci Mekkah dan madinah (tanah haram) yang sama sekali tidak diijinkan kaum kafir untuk menginjaknya sampai hari kiamat kelak.

Khutbah Arafah yang akan merupakan pegangan hidup dan matinya kaum muslimin itu, adalah juga merupakan piagam perdamaian yang mempunyai nilai kemasyarakan yang tinggi, diucapkan beliau dari atas untanya yang berdiri di Namirah dekat bukit Arafah, yang terletak di tengah-tengah padang Arafah yang dahsyat dan luas itu. Khutbah bersejarah yang diabadikan sepanjang masa itu berbunyi antara lain seperti di bawah ini :

“Wahai ummat manusia, dengarkanlah nasehatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini.
“Tahukah kamu semua, hari apa inikah ini? Yang dijawab sendiri oleh beliau: Inilah hari Nahar, hari kurban yang suci. Tahukah kamu bulan apakah ini? inilah bulan suci. Tahukah kamu tempat apakah ini? inilah kota yang suci.”

Haram Menumpahkan Darah

“Maka dari itu aku umumkan kepada kamu semua bahwa darah dan nyawamu, harta bendamu dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kamu sampai kamu bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kamu sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini
dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini di sampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian! Bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan sasksikanlah!”

Hapuskan Riba

“Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Maka barangsiapa yang memegang amanah ditangannya, hendaklah ia bayarkan kepada yang punya. Dan sesungguhnya riba jahiliah itu adalah batil. dan awal riba yang pertama kali aku sapu bersih adalah riba yang dilakukan oleh
pamanku sendiri, Abbas bin Abd. Muthalib.

“Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam dan pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah ala Jahiliah yang mula pertama kali aku hapuskan adalah atas tuntutan darah ‘Amir bin Haris.

“wahai manusia! Hari ini Setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi ia bangga bila kamu dapat mentaatinya walaupun dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun, maka waspadalah kamu atasnya!
“Hai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar semenjak Allah jadikan langit dan bumi”

Hak dan Kewajiban Suami Istri

“Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita itu (istrimu) ada hak-hak yang harus dipenuhi, dan bagimu juga ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri itu. Ialah, bahwa mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kamu sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu, kecuali setelah mendapat izin dari kamu terlebih dahulu. Maka sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan yang demikaian, sesungguhnya Allah telah berarti mengizinkan kamu untuk meninggalkan mereka, dan kamu boleh melecut
ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu.

“Tetapi bila mereka berhenti dan tunduk kepadamu,maka menjadi kewajibanmulah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah,bahwa kaum hawa itu adalah mahluk yang
lemah di sampingmu, mereka tidak berkuasa. Kamu telah bawa mereka dengan suatu amanat dari Tuhanmu dan kamu telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Maka dari itu, takwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah ini wasiat untuk bergaul lebih baik dengan mereka! Wahai ummat, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan, tolong saksikanlah!”

Pegangan Hidup

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu sesuatu, yang bila kamu pegang ia erat-erat niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, dua saja: Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Hai manusia dengarkanlah baik-baik apa yang aku ucapkan kepadamu niscaya pasti kamu bahagia untuk selama-lamanya dalam hidupmu!”

Persaudaraan Islam

“Wahai manusia! Kamu Hendaklah mengerti, bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Maka bagi masing-masing pribadi diantara kamu terlarang keras untuk mengambil harta saudaranya kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah Aku telah menyampaikan?! O, Tuhan tolong saksikan!”

“Janganlah kamu setelah aku meninggal nantikembali kepada kafir, dimana sebagian kamu mempermainkan senjata untuk menebas leher kawannya yang lain. karena, bukankah aku telah tinggalkan untukmu
pedoman yang benar, yang bila kamu ambil ia sebagai pegangan dan suluh kehidupanmu tentu kamu tidak akan tersesat, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an).

“Hai manusia, bukankah aku telah menyampaikan?! O, Tuhan saksikanlah!”

Persamaan Hak

“Hai manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah tunggal dan sesungguhnya kamu berasal dari satu Bapak. semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling taqwa, tidak sedikitpun ada kelebihan bangsa Arab, kecuali dengan taqwa.

“Hai manusia! Bukankah aku telah menyampaikannya?! O, Tuhan saksikanlah! Maka hendaklah barang siapa yang hadir diantara kamu di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan pesan wasiat ini kepada
mereka yang tidak hadir!”

Setelah Nabi mengakhiri Khutbah Al-Wada’ yang sangat berkesan itu dengan nada suara yang tinggi sambil menujuk ke langit, maka berteriak pulalah para jemaah haji yang sedang berkumpul di padang Arafah itu menyahut serentak dengan suara yang lantang dan bergema membahana, membelah kesunyian padang pasir yang luas dan tandus itu dengan beramai-ramai mengucapkan “Demi Tuhan! Sesungguhnya Engkau (Muhammad) telah menyampaikan amanah perintahperintah Tuhanmu!”

***

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.