Cara menghafal Al-Qur’an & Hadits

Saudaraku penghapal Al-quran..
Ini adalah harta simpanan yang Allah percayakan disimpan didalam
dadamu, dan ini adalah kedudukan yang Allah pilihkan atasmu untuk
menempatinya, dan ini adalah kemuliaan yang engkau raih dimana pada
hakikatnya adalah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakmu,
amanat yang wajib atasmu menunaikannya. Maka selayaknya atasmu
memuliakan Al-qur`an dalam dadamu dan menjaga dirimu dari
penghambaan terhadap ahli dunia. Juga wajib engkau melazimi perilaku
tawadhu, tenang, serta berwibawa. Hati-hatilah dari kesombongan dan
takabbur tatkala engkau mendengar pujian manusia atasmu. Maka
ketahuilah bahwasannya riya dapat meluluh-lantakkan amal-amal
shalihmu. Bersemangatlah dalam melaksanakan kebaikan serta menjauhi
maksiat maupun syubhat.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu: “Adalah selayaknya
bagi para penghapal Qur`an terbedakan saat malamnya ketika manusia
terlelap, tatkala siangnya ketika manusia berbuka, tatkala sedihnya
ketika manusia bergembira, tatkala menangisnya ketika manusia
tertawa, tatkala diamnya ketika manusia banyak bicara, dan dengan
kekhusyuannya ketika manusia lalai”

Dari Alhasan Bashri rahimahulloh: “Sesungguhnya orang-orang sebelum
kalian menganggap Al-qu`an sebagai kumpulan surat dari Rabb mereka,
oleh karenanya mereka mentadabburinya disaat malam serta
mengamalkannya di siang hari.”

Dari Fudhoil bin `iyadh rahimahulloh: “Pembawa (penghapal) al-quran
adalah pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia bergurau bersama
orang-orang yang bergurau, tidak lupa bersama orang-orang yang lupa,
serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang banyak cakap,
sebagai pemuliaan terhadap haqnya Al-quran”

Pertama dari apa-apa yang seharusnya bagi penghapal Quran adalah
bertakwa kepada Allah dalam semua keadaan, bersikap waro’ dalam
makan, minum, pakaian, serta perilakunya, tanggap terhadap zaman dan
kerusakan penduduk dunia. Maka dia memperingatkan mereka dalam
beragama, menjaga lisan, terbedakan didalam bicaranya, sedikit dari
berlebihan pada apa-apa yang tak bermanfaat, sangat takut akan
lisannya lebih takut dari pada musuhnya, mawas diri dari hawa nafsu
yang dapat membuat Allah murka, bergumul dengan Quran untuk mendidik
jiwa yang dengannya cita-citanya adalah dapat paham terhadap apa-apa
yang Allah kabarkan dari ketaatan dan menjauhi maksiat.

Bukanlah cita-citanya: Kapan aku mengkhatamkan surat ini? Cita-
citanya adalah: Kapan aku merasa cukup hanya dengan Allah bukan
selainnya? Kapan aku menjadi orang bertakwa? Kapan aku menjadi orang
yang berbuat ihsan? Kapan aku menjadi orang yang bertawakkal? Kapan
aku khusyu beribadah?, Kapan aku bertaubat dari dosa-sosa? Kapan aku
bersyukur atas segala nikmat ini? Kapan aku paham dari apa yang aku
baca?, kapan aku malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya?
Kapan aku menyibukkan mataku dengan Quran? Kapan aku perbaiki
kejelekan-kejelekan urusanku? Kapan aku mengoreksi diri? Kapan aku
membekali diri untuk kehidupan setelah mati di akhirat kelak?

Seorang mukmin yang berakal tatkala membaca Al-quran maka alquran
itu bagaikan cermin di matanya sehingga dia bisa melihat apa yang
bagus atau jelek dari perilakunya, maka apa-apa yang Allah
peringatkan, dia merasa diperingatkan dan apa-apa yang Allah
ancamkan dari siksa, dia merasa takut. Maka orang yang memiliki
sifat seperti ini atau paling tidak dekat dengan sifat tersebut,
maka Alquran akan menjadi saksi serta memberinya syafaat.

(Dinukil dari kitab “Warottilil qur`ana tartiila, Washoya wa
Tanbihaat fit Tilawati wal Hifdzi wal Muroja`ati” dengan pengurangan
dan perubahan sedikit)

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.