ASRAMAKU JUGA SURGAKU

Oleh : Ust. Sulaiman mahmud, S.Ag
Sebagai sekolah Boarding School yang berwawasan Imtaq dan Iptek, MTsS Nurul Falah Meulaboh membentuk sebuah kebersamaan yang berbeda di banding dengan MTsS umumnya. Kebersamaan yang terbentuk layaknya sebuah keluarga, karena seluruh santri tidak hanya bersama selama pembelajaran di kelas tetapi juga kemudian hidup bersama (serumah) di asrama. Dalam konteks inilah asrama mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dengan rumah. Para guru asuh (pembina) yang ada di asrama mempunyai kedudukan dan fungsi yang sama dengan orang tua (ayah-ibu) yang ada di rumah. Para pembina di asrama karena tertitipkan amanah dari para orang tua bertanggung jawab membimbing, mengasuh, mengayomi dan bahkan bila perlu “memarahi” anak sama seperti orang tua di rumah yang tertitipkan amanah anak dari Allah SWT. Rasulullah saw bersabda “baitijannati (rumahku surgaku)”. Dalam konteks MTsS Nurul Falah Meulaboh, nampaknya kita pun akan sependapat untuk menyatakan asramaku surgaku. Layaknya baitijannati, kondisi ini akan terwujud ketika fungsi rumah (baca = asrama) seperti yang di ajarakan oleh Rasulullah dapat dijalankan oleh penghuninya (orang tua dan anak).
FungsiAsrama

Pertama, asrama harus menjadi tempat pembinaan keimanan kepada Allah SWT. Asrama MTsS Nurul Falah Meulaboh sangat berkomitmen terhadap hal ini. Berbagai kegitan dan aktivitas dilaksanakan dalam upaya pembinaan dan peningkatan keimanan kepada Allah SWT. Kajian-kajian kitab yang dilaksanakan di musalla atau melalui ceramah-ceramah umum adalah merupakan bentuk aktivitas untuk meningkatan pengetahuan kita akan kekuasaan Allah yang kemudian menjadikan keimanan kita kepada Allah SWT meningkat dan makin kuat. Disamping itu pembinaan dalam pelaksanaan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunah, misalnya shalat berjamaah juga mempunyai tujuan sama, yang harapannya adalah agar penghuni asrama (pembina/ orang tua, santri/ anak) menjadi orang-orang yang mutaqin, insya Allah.
Kedua, asrama harus menjadi tempat pembinaan akhlak. Etika dalam beribadah, etika bergaul, etika makan minum, etika berpakaian, serta pembinaan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, solidaritas, kerjasama maupun aspek kerapihan dan kebersihan adalah merupakan hal-hal yang menjadi konsen asrama MTsS Nurul Falah Meulaboh dalam melakukan pembinaan kepada santri (anak). Pembinaan tersebut dilakukan dengan satu maksud yaitu agar santri-santri MTsS Nurul Falah Meulaboh tumbuh menjadi santri yang berakhlakul karimah.
Ketiga, fungsi berikutnya yang harus dimiliki oleh sebuah rumah (asrama) sehingga dapat termasuk dalam kategori baitijannati adalah menjadikan asrama sebagai tempat belajar untuk meningkatkan ilmu. Pelajaran yang telah disampaikan oleh Ustaz dan Ustadzah di sekolah setelah tiba di asrama harus diulangi kembali dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman. Kewanjiban para orang tua dalam hal ini adalah pembina untuk mengontrol anaknya agar dapat memanfaatkan waktu untuk belajar, memberikan/ menjaga ruang dan waktu yang kondusif buat anak-anaknya dalam balajar. Oleh karena itu, kaitannya dengan fungsi ini asrama atau rumah sangat memegang peranan penting dalam peningkatan pemahaman keilmuaan santri. Asrama tidak sekedar menjadi tempat untuk tidur, menjadi tempat untuk bermain atau lain sebagainya dengan mengabaikan aktivitas belajar ketika kita berada di asrama atau rumah.
Profilhasil
Berikut kami sampaikan hasil beberapa aspek pembinaan yang dilakukan pembina asrama MTsS Nurul Falah Meulaboh terhadap anak didiknya. Diagram berikut menggambarkan capaian pembinaan terhadap santri, dan juga dapat merupakan tingkat kesadaran santri dalam mematuhi pembinaan.
Pelaksanaan shalat berjama’ah Absensi Sekolah Kerapihan dan kebersihan
Kunci sukses Hasil pembinaan atau kemudian paralel juga dengan tingkat kesadaran santri yang diperlihatkan dalam grafik tersebut di atas, menunjukkan bahwa masih perlu perbaikan atau peningkatan, baik itu pada tingkat pembinaan oleh orang tua (pembina) maupun pada tingkat kesadaran anak (santri). Menurut pendapat para ulama, seperti yang diungkapkan oleh Ustad Zainal Fanani yang dimuat dalam harian Repulika (25/11/2005) bahwa minimal terdapat dua syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan keluarga yang baitijannati. Pertama, adanya kesamaan pandangan dan tujuan dalam keluarga tersebut. Keluarga yang tinggal satu atap tersebut (=satu rumah, dalam konteks ini asrama) memiliki pandangan yang sama untuk menjalankan ajaran Rasulullah, rumah (asrama) di fungsikan sebagai tempat pembinaan ke-imanan kepada Allah SWT, tempat pembelajaran peningkatan akhlak, dan sebagai tempat pembelajaran untuk meningkatkan keilmuan. Orang tua (pembina) membuat sistem dan mekanisme agar fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan secara kondusif di rumah dan anak mematuhinya dengan satu tujuan yaitu mardhatillah. Kedua, adalah adanya komunikasi yang harmonis. Komunikasi yang dibangun dalam keluarga yang meng-idamkan baitijannati adalah komunikasi yang hasanah. Komunikasi yang terlahir dari sikap saling hormat dan saling sayang. Oorang tua (orang tua) membina anak dengan penuh kasih sayang dan santri (anak) mematuhinya dengan penuh sikap hormat. Meminajam bahasanya ustad Masrukul Amri dikatakan sebagai orang tua yang sangat baik dan anak yang sangat baik. Inilah keluarga baitijannati –asramaku (juga) surgaku–. Inilah tujuan kita. Amien. ( Pembina asrama)
*) Dari berbagai sumber bacaan dan diskusi

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.