Hadits Maudhu’

Pengertian Hadits Maudhu’ dan Faktor-Faktor Timbulnya Hadits   Maudhu’

Secara etimologi kata Maudhu’ adala isim maf’ul dari kata wadha’a, yang berarti al-isqath (menggugurkan), al-tark (meninggalkan), al-iftira’ wa al-ikhtilaq (mengada-ngada atau membuat-buat) adalah lawan kata rafa’a (mengangkat) yang juga bermakna penurunan.[1]

Pengertian Hadits Maudhu’ menurud istilah para muhaditsin adalah:

هو ماتسب الى رسول الله صلى الله عليه وسلم اختلاقاوكذبا ممالم يقله أو يفعله أو يقره

  Sesuatu yang di nisbahkan kepada Rasulullah SAW, secara mengada-ngada dan dusta, yang tidak beliau sabdakan, beliau kerjakan ataupun beliau takrirkan.[2]

Dari pengertian tersebut kita dapat simpulkan bahwa hadits maudhu’ adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan maupun taqrirnya, secara rekaan atau dusta semata-mata. Dalam penggunaan masyarakat Islam, hadits maudhu’ disebut juga dengan hadits palsu.[3]

Kata-kata yang biasa dipakai untuk hadits maudhu’ adalah Al-mukhthalaku, al-muthala’u, al-mashnu, dan al-mahdzub. Kata-kata tersebut memiliki arti yang hampir sama. Pemakaian kata-kata tersebut adalah lebih mengokohkan (ta’kid) bahwa hadits semacam ini semata-mata dusta atas nama Rasul SAW.[4]

Secara terminologi, menurud Ibnu al-Shalah dan di ikuti oleh Al-Nawawi, Hadits Maudhu’ berarti:وهو المختلق المصنوع

Yaitu sesuatu (Hadits) yang diciptakan dan dibuat

Difinisi yang lebih rinci dikemukakan oleh M. ‘Ajjaj al-Khathib, sebagai berikut:لم يقله أويفعله أو يقره    ما نسب الى رسول الله صلى الله عليه وسلم اختلافا وكذبا مما

Hadits yang dinasabkan (disandarkan) kepada Rasulullah SAW, yang   sifatnya dibuat-buat dan diada-adakan, karena Rasulullah SAW sendiri tidak mengatakannya, membuat, maupun menetapkannya.”

Al-Thahhah, mendefinisikan sebagai berikut:

هو الكذب المختلق المصنوع المنسوب الى رسول الله صلى الله عليه وسلم                                          Yaitu kebohongan yang diciptakan dan diperbuat serta di sandarkan   kepada Rasulullah SAW.

Shubhi al-Shalih, menyatakan bahwa Hadits Maudhu’

هو الخبر الذى يختلقه الكذابون وينسبونه الى رسول الله صلى الله عليه وسلم افتراء عليه.

Yaitu berita yang diciptakan oleh pembohong dan kemudian mareka sandarkan kepada Rasulullah SAW, yang sifatnya mengada-ada atas nama beliau.

Dari difinisi diatas, terlihat secara sederhana Ibnu al-Shalah menyatakan bahwa Hadits Maudhu’  itu adalah   المختلق المصنوع  , Yaitu Hadits yang diciptakan dan dibuat-buata atas nama Rasulullah SAW, dan oleh karena itu Hadits Maudhu’  Hadits ini  disebut juga Hadits yang paling buruk statusnya diantara Hadits-Hadits Dha’if,  dan oleh karena itu tidak dibenarkan bahkan haram hukumnya untuk meriwayatkannya dengan alasan apapun kecuali disertai dengan penjelasan tentang ke-Maudhu’-annya.[5]

Dengan demikian dapat kita simpulkan  bahwa Hadits Maudhu’ pada dasarnya adalah kebohongan atau berita sengaja diada-adakan yang selanjudnya dinisbahkan oleh pembuatnya oleh Rasululllah SAW, dengan maksud dan tujuan tertentu.

Data sejarah menunjukkan bahwa pemalsuan Hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, bahkan juga dilakukan oleh orang-orang non Islam. Montif yang mendorong pembuatan Hadits Maudhu’  di antaranya adalah:

  1. Motif politik

Setelah ‘Usman ibn ‘Affan wafat timbulnya perpecahan dikalangan umat Islam. Perpecahan tersebut berlanjud dengan lahirnya kelompok kelompok pendukung masing-masing pihat yang berseteru, seperti kelompok Ali bin Abi Thalib, pendukung Mu’awiyah ibnu Abi Sofyan, dan kelompok ketiga, yaitu kelompok Khawarij, yang muncul setelah terjadinya perang Shiffin, yaitu kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah.

Perpecahan yang bermotifkan kelompok ini mendorong masing-masing kelompok berusaha untuk memenangkan kelompoknya dan menjatuhkan kelompok lawan. Dalam mendukung kelompoknya masing-masing serta menarik perhatian umat agar berpihak kepada mareka, maka mareka didalam melakukan kompanye politik, mencari argumen-argumen dari Al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi, tak kala mareka tidak menemukan argumen yang mareka butuhkan kedalam kedua sumber tersebut, maka mulai mareka menciptakan Hadits-Hadits Palsu yang kemudian di sandarkan kepada Nabi SAW. Dari tiga kelompok diatas, maka kelompok Syi’ahlah yang pertama melakukan pemalsuan Hadits.[6]

Diantara Hadits-Hadits yang dibuat oleh kelompok Syi’ah adalah:

يا علي ان الله غفرلك ولذريتك ولوالديك ولا هلك و لشيعتك ولمحيي شيعتك.

Hai Ali, sesungguhnya Allah telah mengampuni engkau, keturunan engkau, kedua orang tua engkau, para pengikut engkau, dan orang-orang yang mencintai pengikut engkau.[7]

Contoh lain adalah:

على خير البشر من شك فيه كفر

Ali adalah sebaik-baik manusia. Maka siapa yang meragukan adalah kafir                                                                         [8]

  1. Usaha dari Musuh Islam (Kaum Zindiq)

Kaum zindik adalah kelompok yang membenci Islam, baik sebagai agama maupun sebagai sesuatu kedaulatan/pemerintahan.[9]

Ketidakmampuan mareka dalam berkonfrontasi dengan umat Islam secara nyata (terang-terangan), maka mareka berupaya untukan umat menghancurkan Islam melalui tindakan merusak agama dan menyesatkan umat Islam dengan cara membuat Hadits-Hadits palsu dalam bidang-bidang aqidah, ibadah, hukum, dan sebagainya. Di antara mareka adalah Muhammad Ibnu Sa’id al-Syami yang mati disalib karena terbukti sebagai zindik. Dia meriwayatkan Hadits, yang menurutnya berasal, dari Humaid dari Anas dari Nabi SAW yang menyatakan:

انا خاتم النبيين لا نبي يحدي الا أن يشاء الله

  Saya adalah penutup para nabi, tidak ada Nabi lagi sesudahku kecuali dikehendaki Allah.[10]

Tokoh pemalsu Hadits  lain yang berasal dari kelompok Zindik adalah ‘Abd al-Karim ibn Abu al-‘Auja’. Dia mengaku sendiri perbuatannya memalsukan Hadits sebanyak 4.000 Hadits yang berhubungan dengan penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal.

  1. Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri atau pimpinan

Mareka yang fanatik terhadap bahasa Persia, membuat Hadits yang mendukung keutamaan bahasa Persia, dan sebaliknya, bagi mareka yang fanatik terhadap bahasa Arab akan membuar Hadits yang menunjukkan keutamaan bahasa Arab dan mengutuk bahasa Persia.

Contohnya, para pendukung bahasa Persia menciptakan Hadits yang menciptakan kemuliaan bahasa Persia, diantaranay sebagai berikut:

ان كلام الدين حول العرش بالفارسية

Sesungguhnya pembicaraan orang-orang yang di sekitar ‘arasy adalah dengan bahasa Persia

Sementara dari pihak lawan juga muncul Hadits palsu yang sifatnya menentang dan menjatuhkan kelompok tadi. Diantara hadits yang dipalsukan oleh kelompok ini adalah:

أبغض الكلام الى الله لفارسية

Perkataan yang paling dibenci Allah adalah bahasa Persia[11]

ان الله اذا غضب أنزل الوحي بالفارسية واذا رضي أنزل الرحي بالعربية

Sesungguhnya Allah apabila marah maka Dia turunkan wahyu dengan bahasa Persia, dan apabila Dia senang maka turunlah wahyu dengan bahasa Arab.[12]

  1. Pembuat cerita atau kisah-kisah

Para pembuat cerita dan ahli kisah memalsukan Hadits dalam rangka menarik simpati orang banyak, atau agar para pendengar kisahnya kagum terhadap kisah yang mareka sampaikan, ataupaun dalam rangka mendapat imbalan materi (rizki). Umumnya hadits-hadits yang mareka ciptakan cenderung bersifat berlebihan atau tidak masuk akal. Diantara contoh adalah mengenai balasan yang akan diterima seseorang yang mengucapkan kalimah la ilaha illa Allah. Sebagaimana dinyatakan:

من قال لا اله الا الله خلق الله طائرا له سبعون الف لسان لكل لسانسبعون ألف لغةيستغفرون له

Siapa yang mengucapkan “la ilaha ila Allah”, Allah akan menciptakan seekor burung yang mempunyai tujuh puluh ribu lidah, dan masing-masing lidah menguasai tujuh puluh ribu bahasa yang akan memintakan ampunan baginya.[13]

  1. Perbedaan pendapat dalam masalah fiqih atau Ilmu Kalam

Perbuatan ini umumnya muncul dari pada pengikut satu mazhab, baik dalam bidang fiqih atau ilmu Kalam. Mareka menciptakan Hadits-Hadits Palsu dalam rangka mendukung atau memuatkan pendapat, hasil ijtihad dan pendirian para imam mareka. Di antaranya Hadits-Hadits buatan yang mendukung pendirian mazhab tentang acara pelaksanaan ibadah shalat, seperti mengangkat tangan ketika akan ruku’, menyaringkan/menyerangkan bacan “bismillah” ketika membaca Al-fatihah dalam bidang fiqih, atau mengenai sifat makhluk bagi Al-Qur’an dalam bidang Ilmu Kalam,  Umpamanya:

المضمضة والاستنشاق للجنب ثلاثافريضة – أمني جبريل عند الكعبة فحهجر ب ( بسم الله الرحمن الر حيم ) – من قال : القران مخلق فقد كفر.

Berkumur-kumur dan menghirup air kehidung masing-masing tiga kali, adalah wajib bagi orang yang berjunub.

Jibril telah mngimami aku (ketika Shalat) di Ka’bah, maka dia menjaharkan (membaca dengan keras), Bismillahirrahanirrahim.”

Siapa yang menyatakan Al-Qr’an adalah makhluk, maka dia telah menjadi kafir.[14]

  1. Semangat yang berlebihan dalam beribadah tampa didasari ilmu pengetahuan.

Dikalangan orang-orang zuhud atau para ahli ibadah ada yang beranggapan bahwa membuat Hadits-Hadits mendorong agar giat beribadah (targhib), atau yang bersifat mengancam agar tidak melakukan tindakan yang tidak benar (tarhib), dalam rangka bertaqarrub kepada Allah, adalah diperbolehkan. Mareka ini, apabila diperingatkan akan acaman Rasulullah Allah SAW tindakan berdusta atas nama beliau akan menyebabkan pelakunya masuk neraka, maka mareka akan menjawab bahwa mareka berdusta bukan untuk keburukan, melainkan untuk kebaikan.[15] Dengan keutamaan surat-surat yang terdapat dalam Al-Qur’an. Abu ‘Ishmah Nuh ibn Abi Maryam, salah seorang pemalsu Hadits dari kelompok ini, mengaku bahwa ia telah memalsukan Hadits dengan alasan untuk menarik minat untuk kembali kepada Al-qur’an, karena ia melihat banyak yang berpaling dari Al-Qur’an, tetapi sebaliknya, mareka sibuk dengan fikih Abu Hanifah dan Maghazi Ibn Ishaq.[16] Salah satu contoh Hadits maudhu’ dengan motif ini adalah:

من قرا يس في ليلة أصبح مغفورا له وقرا الدخان ليلة أصبح مغقورا له

Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pada pagi harinya dia telah diampuni dari segala dosanya; dan siapa yang membaca surat Al-Dukhan pada malam hari, pada subuhnya dia telah diampuni dosa-dosanya.[17]

  1. Mendekatkan diri kepada para penguasa.

Diantara pemalsu Hadits tersebut, ada yang sengaja membuat Hadits untuk mendapatkan simpati atau penghargaan dari pada khalifah atau pejabat pemerintah yang sedang berkuasa ketika itu. Umpamanya: adalah Ghayats Ibn Ibrahim, yang ketika memasuki istana khalifah Al-Mahdi, dlihatnya Al-mahdi sedang melaga burung merpati, maka Ghayats berkata, “Nabi bersabda …”:

لاسبق الا في نصل أو خف أو حافر ، فزاد فيه ( أو جناح)

Tidak ada perlombaan kecuali dalam memanah, balapan unta, pacuan kuda, maka Ghayats menambahkan, “Atau burung merpati[18]

Dalam hal ini, Ghayats, telah menambahkan kata janah terhadap Hadits yang datang dari Nabi tersebut. Menyadari akan perbuatan Ghayats tersebut, Al-Mahdi akhirnya memerintahkan untuk menyembelih merpati tersebut, setelah terlebih dahulu memberi Ghayats hadiah sejumlah 10.000 dirham.[19]

Dari uaraian diatas, terlihat bahwa ada diantara pemalsu Hadits tersebut yang dengan sengaja menciptakan Hadits palsu dengan keyakinan bahwa tindakan itu diperbolehkan, dan ada pula yang tidak tau tentang status pekerjaan itu. Ada diantara mareka mempunyai tujuan  negatif ada yang memandang tujuan tersebut sebagai positif. Akan tetapi, apa pun alasan dan  motif mareka, perbuatan memalsukan Hadits tersebut adalah tercela dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan sabda Rasul SAW yang mencela perbuatan bohong atas nama beliau.

Bentuk-bentuk pemalsuan Hadits sebagaimana yang telah disebutkan diatas, menurut Azarni adalah termasuk dalam kelompok pemalsuan Hadits dalam bentuk yang pertama, yaitu yang dilakukan secara sengaja (intentional fabrication of Hadith) yang umum disebut dengan Hadits Maudhu’. Sedangkan pemalsuan hadits dalam bentuk yang kedua, yatu penyadaran sesuatu yang bukan Hadits, yang dilakukan secara keliru kepada nabi SAW, namun dilakukan dengan tidak sengaja (unintentional fabrication of Hadith), seperti karena kelalaian dan kekurang hati-hati, disebut oleh Azarni dengan Hadits Bathil. Di antara bentuk-bentuknya adalah seperti:

  1. Memberikan sanad baru terhadap suatu Hadits yang cukup dikenal, untuk semata-mata bertujuan novelty, yaitu menjadikan Hadits tesebut baru dan asing, sehingga akan menjadi pusat kajian bagi para ahli.
  2. Meriwayatkan Hadits secara keliru, yang seharusnya hanya sampai kepada Sahabat atau Tabi’in, karena memang pernyataan tersebut adalah pernyataan Sahabat atau Thabi’in, namun meriwayatkan sampai kepada Nabi SAW, sehingga dengan demikian menjadi pernyataan Rasul SAW, pahal sebenarnya bukan pernyataan beliau.[20]

B.  Hukum Memalsukan Hadits dan Meriwayatkannya

Umat Islam telah sepakat hukum membuat dan meriwayatkan hadits Maudhu’ dengan sengaja adalah haram secara mutlaq, bagi mareka yang sudah mengetahui hadits itu palsu. Adapun bagi mareka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tau kepada orang bahwa Hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacakannya), tidak ada dosa atasnya.

Mareka yang tidak tau sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mareka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tau, tidak ada dausa diatasnya. Akan tetapi, sesudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalahhadits palsu, hendaklah segera ia tinggalkan, kalau tetap ia amalkan, sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali, hukumnya tidak boleh.[21]

C. Upaya Kesungguhan Para Ulama untuk Mengantisipasi Timbul dan Beredarnya Hadits Maudhu’

Dalam upaya menanggulangi Hadits-Hadits Maudhu’ agar tidak berkembang dan semangkim meluas serta agar terpeliharanya, hadits-Hadits Nabi SAW dari tercampur yang bukan Hadits, para ulama Hadits telah merumuskan langkah-langkah yang dapat mengantisipasi poblema hadits Maudhu’ ini. Langkah-langkat tersebut sebagai berikut:[22]

  1. Memelihara Sanad hadits

Ketelitian dan sikap ketat terhadap  sanad Hadits telah dilakukan oleh umat Islam sejak para Sahabat  dan Thabi’in. Sikap teliti dan sikap hati-hati  tersebut semangkin meningkat terutama setelah terjadi perpecahan dikalangan umat Islam dan muncullah tindakan pelmasuan Hadits. Para Sahabat dan Thabi’in apabila mareka menerima Hadits  selalu menanyakan tentang sanad  suatu dari oarng yang merawikannya dan sebaliknya mareka akan menerangkan sanad dari hadits mareka sampaikan.

  1. Meningkatkan kesungguhan dalam meneliti Hadits

Aktivitas dalam mencari serta meneliti kebenaran sesuatu hadits juga sudah dimulai sejak zama Sahabat dan Thabi’in  pada masa itu telah timbul usaha perlawatan dari suatu daerah ke daerah lain  yang kadang-kadang hanya untuk kepentingan meneliti kebenaran sebuah Hadits dari seorang perawinya. Seorang Thabi’in tak kala mendengar atau menerima sebuah Hadits, maka akan mengunjungi para Sahabat yang masih hidup ketika itu dalam rangka untuk mengecek kebenaran Hadits tersebut. Dan para Sahabat ketika itu juga bersifat terbuka kepada siapa saja bertanya tentang Hadits Nabi SAW, serta akan menjelaskan secara rinci tentang kebenaran dan status sebuah Hadits yang dipertanyakan nkepada mareka, atau ketika mareka meriwayatkannya.

  1. Menyelidiki dan membasmi kebohongan yang dilakukan terhadap hadits

Di samping sikap hati-hati dalam menerima dan meriwayatkan suatu Hadits, Para Ulama melakukan penyelidikan terhadap pelaku kebohongan dan pemalsuan Hadits dan sekaligus menutup serta membatasi ruang gerak mareka dalam memalsukan hadits.

  1. Menerangkan keadaan para perawi

Adalah mareka keharusan bagi para Ulama Hadits untuk mengenali para Perawi Hadits, sehingga mareka dapat menetapkan dan sekaligus membedakan perawi yang benar dapat dipercaya riwayatnya dan perawi yang berbohong, Dengan demikian, dapat dibedakan mana Hadits yang Shahih, yang Dha’if, bahkan yang Palsu.

  1. Membuat kaidah-kaidah untuk menentukan Hadits Maudhu’

Sebagaimana para Ulama telah menetapkan ketentuan-ketentuan dalam menilai suatu Hadits, apakah Shahih, hasan, atau Dha’if, mareka juga membuat kaidah-kaidah untuk menetapkan suatau Hadits itu palsu atau tidak. Di antaranya, mareka menetapkan beberapa kriteria Hadits Maudhu’, baik dari segi sanad maupun matan.

D. Cara-Cara Mengetahui Hadits Maudhu’ dan Tanda-Tandanya

Para Ulama MuHaditsin, disamping membuat kaidah-kaidah untuk mengetahui shahih, hasan, atau dhaif suatu Hadits, mareka juga menentukan tanda-tanda untuk mengetahui ke maudhuan suatu Hadits.[23]

Kemaudhuan suatu Hadits dapat dilihat pada tanda-tanda  yang terdapat pada Sanad dan Matan.

  1. Tanda-tanda yang terdapat pada Sanad adalah:
  2. Rawi tersebut terkenal berdusta (seorang pendusta) dan tidak ada seorang rawi yang terpercaya yang meriwayatkan Hadits dari dia.
  3. Pengakuat bagi si pembuat sendiri, seperti pengakuan guru tasauf, ketika oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an, yang serentak menjawab, “Tidak seorang pun yang meriwayatkan Hadits kepada ku, Akan tetapi, serentak kami melihat manusia sama membenci Al-Qur’an, kami ciptakan untuk mareka Hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Qur’an), agar mareka manaruh perhatian untuk mencintai Al-Qur’an.”
  4. Kenyataan sejarah, mareka tidak mungkin ketemu, misalnya ada pengakuan dari seseorang rawi ia menerima Hadits dari seorang guru, pada dia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut, atau ia lahir sesudah guru tersebut meninggal, misalnya ketika Ma’mun Ibn Ahmad As-Sarawi mengaku ia menerima Hadits dari Hisyam Ibn Amr kepada Ibn Hibban  maka Ibn Hibban bertanya, “Kapan engkau pergi ke Syam?”. Makmun menjawab, “Pada tahun 250 H.” Mendengar itu, Ibnu Hibban berkata, “Hisyam meninggal dunia pada pada tahun 245 H.”

d. Keadaan Rawi dan faktor-faktor yang mendorongnya membuat Hadits Maudhu’ , misalnya seperti yang dilakukan Giyants bin Ibrahin, kala ia berkunjung ke rumah Al-Mahdi yang sedang bermain dengan burung merpati, ia berkata,

لا سبق الا في نصل أوخف أ حافر أو جناح

Tidak sah perlombaan itu, selain mengadu anak panah, mengadu unta, mengadu kuda, atau mengadu burung.[24]

Ia menambah kata, “au janahin” (atau mengadu burung). Untuk menyenangkan Al-Mahdi, lalu Al-mahdi memberinya sepuluh ribu dirham. Setelah ia berpaling, Sang Amir berkata, “Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah SAW”. Lalu ia memerintahkan untuk menyembelih merpati itu. Tingkah laku Ghiyats semacam itu menjadi qarinah untuk menetapkan ke-maudhu-an suatu hadits.

  1. Tanda-tanda yang terdapat pada Matan
  2. Keburukan susuna lafazhnya

Ciri ini akan diketahui setelah kita mendalami ilmu Bayan. Dengan mendalami ilmu Bayan ini, kita merasakan susunan kata, mana yang mungkin keluar dari mulut Nabi SAW, dan mana yang tidak mungkin keluar dari mulut Nabi SAW.

  1. Kerusakan maknanya

1)      Karena berlawanan dengan akal sehat, seperti Hadits:

ان سفينة نوح طافت بالبيت سبعا وصلت بالمقام ركعتين .

  Sesungguhnya bahtera Nuh bertahawaf tujuh kali keliling Ka’bah dan bersembahyang dimakam Ibrahim dua rakaat.[25]

 

2)Karena berlawanan dengan hukum akhlak yang umum, atau menyalahi kenyataan, seperti Hadits:

لا يولد بعد المائة مولد لله فيه حاجة .

Tiada dilahirkan seorang anak sesudah tahun seratus,  yang ada padanya keperluan  bagi Allah.[26]

2)      Karena berlawanan dengan ilmu kedokteran, seperti Hadits:

الباذنجان شفاء من كل شيء .

Buah terong itu penawar bagi segala penyakit.[27]

 

3)      Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang menetapkan akal terhadap Allah. Aka menetapkan bahwa Allah suci dari serupa dengan makhluknya, seperti Hadits:

ان الله خلق الفرس فأجراها قعرقت فخلق نفسها منها

          Sesungguhnya Allah menjadikan kuda betina, lalu ia memacukannya. Maka berpeluhlah kuda itu, lalu Tuhan menjadikan dirinya dari kuda itu.

 

4)      Karena menyalahi hukum-hukum Allah dalam menciptakan alam, seperti Hadits yang menerangkan bahwa ‘Auj ibn ‘Unug mempunyai panjang tiga ratus hasta. Ketika Nuh menakutinya dengan air bah, ia berkata,” Bawalah aku kedalam piring mangkukmu ini.” Ketika topan terjadi, air hanya sampai ketumitnya saja. Kalu mau makan, ia masukkan tangannya kelaut, lalu membakar ikan yang diambilnya ke panas mata hari yang tidak serupa jauh dari ujung tangannya.

5)      Karena mengandung dongen-dongen yang tidak masuk akal sama sekali, seperti Hadits:

الديك الابيض حبيبي وحبيب حبيبي .

Ayam putih kekasihku dan kekasih dari  kekasihku Jibril.[28]

6)      Bertentangan dengan keterangan Al-Qur’an, Hadits Mutawatir, dan kaidah-kaidah kulliyah, seperti Hadits:

ولد الزنا لا يدخل الجنة الى سبعة أبناء .

Anak zina itu tidak masuk syurga sampai tujuh keturunan.[29]

 

7)      Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan-perbutan yang sangat kecil, atau siksa yang sangat besar terhadap sesuatu perbuatan kecil, seperti Hadits:

من قال لا اله الا الله خلق الله من تلك الكلمات طائراله سبعون ألف لسات سبعوت ألف لغة يستغفرون له .

Barang siapa mengucapkan tahlil (la ilaha illallah) maka Allah mencitakan dari kalimat itu  seekor burung yang mempunyai 70.00 lisan, dan setiap lisan mempunyai 70.00 bahasa yang dapat memrintahkan ampun kepadanya,[30]


[1] Abdul Mannan Ar-Rasikh, Kamus Istilah-Istilah Hadits, (Jakarta: Darul Falah, 2006),  h. 212

[2] Muhammad ‘Ajjaj Al-Khathib. Ushul Al-Hadits. Terj. H. M. Qadirun dan Ahmad Musyafiq. (Jakarta: Gaya Media pratama), h. 352

[3] Abdul Fatah Abu Ghauddah. Lamhat Min Tarikh As-sunnah wal ‘Ulum Al-Hadis. H. 41

[4] Utang Ranuwijaya, Imu Hadits, (Jakarta: Gaya Media pratama. 1996), h. 189

[5] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits, (Ciputat, PT. Mutiara Sumber Widya, 1997). h. 297-229

[6] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h. 305-306.

[7] Al-Siba’i, Mustafa, Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami. (Kairo: al-Dar al-Qawarniyyahli al-Tiba’ah wa al-Nasyri, 1966). h. 79.

[8] Al-Khatib, M. ‘Ajjaj, AlMukhtasar al-Wajiz fil ‘Ulum al-Hadits.(Bairut: Mu’assasah al-Risalah, 1999), h. 418.

[10] Al-Sba’i, Mustafa. Al-sunnah … h. 83.

[11] Al-Khatib, M. ‘Ajjaj, AlMukhtasar …h. 422.

[12] Al-Sba’i, Mustafa. Al-sunnah … h. 84.

[13] Ash Shiddieqy, T. M. Hasbi.Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits.(Jakarta: Bulan Bintang, 1985). H. 375.

[14] Al-Sba’i, Mustafa. Al-sunnah … h. 86.

[15]Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h.312.

[16] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h. 312.

[17] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h. 313.

[18] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h. 314

[21] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, (Bandung, Pustaka setia,2011), h. 187.

[22] Nawir Yuslem, Ulumul Hadits …,  h.321-324.

[23] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 182-186

[24] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 183.

[25] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 184.

[26] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 184.

[27] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 184

[28] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 185

[29] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 185

[30] M. Agus Solahuddin dan Agus Suryadi, Ulumul Hadits, … h. 185

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.