ISLAM DI MASA KHULAFAURRASYIDIN

ISLAM DI MASA KHULAFAURRASYIDIN

  1. Pengertian Khulafaurrasyidin

Al-Khulafaurrasyidin merupakan pimpinan Islam dari kalangan sahabat, pasca Nabi Muhammad SAW wafat. Mareka merupakan pimpinan yang dipilih langsung oleh bara sahabat melalui mekanisme  yang demokratis. Siapa yang dipilih , maka sahabat yang lain berhak untuk memberikan bai’at (sumpah setia) pada calon yang terpilih.[1]

Khulafaurrasyidin adalah pecahan dari kata Khulafa’ dan Al-Rasyidin, Kata Khulafa’ mengandung pengertian: cerdik, pandai dan pengganti. Sedangkan kata, Al-Rasyidin mengandung pengertian  : Lurus Benar dan Mendapat petunjuk.

Pengertian Khulafaurrasyidin adalah “ Pengganti yang cerdik dan benar serta para pemimpin pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang sangat adil dan bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnya senantiasa pada jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

  1. Siapakah Khulafaurrasyidin

Khalifah “penerus Nabi” merupakan jabatan yang dipangku pada sahabat setelah Nabi wafat. Pengertian penerus Nabi pun bukanlah siapa yang akan menggantikan Muhammad sebagai nabi melainkan menggantikan sebagai pemimpin umat. Khalifah merupakan singkatan dari Khalifah Rasulillah, sedangkan Khilafah merupakan sistem pemerintahannya.

Adapun Khulafaurrasyidin yaitu: 1) Abu bakar siddiq, 2) Umar Ibnu Khattab, 3) Utsman Bin Affan, 4) Ali Bin Abi Thalib.

Sejarah Kepemimpinan Khulafaurrasyidin

    1. Abu Bakar Siddiq (11-13 H/632-634 M)
      1. Riwayat hidup

Sebelum memeluk agama Islam , beliau bernama Abdul ka’bah, setelah masuk Islam oleh rasulullah Namanya diganti menjadi Abdullah Ibn  Abu Quhafah At – Tamimi. Ibunya bernama Ummul Khoir Salma Binti Sakhir Ibn Amir. Beliau Lahir dua tahun setelah Kelahiran Nabi Muhammad.

Abdullah kemudian digelari Abu Bakar Asy Siddiq yang artinya “ Abu (Bapak ) dan Bakar ( Pagi ), gelar Ash Siddiq diberikan kepada beliau karena beliau orang senantiasa membenarkan segala tindakan Rasulullah, terutama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Kepemimpinannya

Abu Bakar adalah orang pertama kali masuk Islam, ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan Muhammad. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk islam. Dengan semangat ukhwah Islamiah yang tinggi Abu Bakar terpilih Khalifah yang pertama. Rupanya semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam.[2]

Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Masa sesingkat itu ia habiskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat nabi Muhammad, dengan sendirinya batal setelah nabi wafat. Karena sikap keras kepala dan penentang mereka dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan in dengan cara perang Riddah (perang melawan kemudharatan) Khalid Ibn al-Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam perang Riddah ini. Riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara politis merupakan pembangkang (Distorition) terhadap lembaga khalifah.

Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Mula-mula hal itu dimaskudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali kejalan yang benar, kemudian tindakan kebersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang  yang enggan membayar zakat.

Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut terutama setelah mendapat dukungan dari suku Qutafan yang kuat ternyata banyak menyita konsentrasi, khalifah baik secara moral maupun politik. Situasi keamanan negara Madinah menjadi kacau, sehingga banyak sahabat, tidak terkecuali Umar yang dikenal keras, menganjurkan bahwa dalam keadaan yang begitu kritis lelah baik kalau mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap ini khalifah menjawab dengan marah.

Selama peperangan Riddah, banyak dari (penghafal Al-Qur’an) yang tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu, menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar.

Sesudah memulihkan ketertiban di dalam negeri. Abu Bakar lalu mengalihkan perhatiannya untuk memperkuat perbatasan dengan Persia dan Byzantium, yang akhirnya menjurus kepada serangkaian peperangan kedua kekaisaran itu.

Tentara Islam dibawah pimpinan Musanna dan Khalid ibn Wali dikirim ke Irak dan menaklukkan Hirah; sedangkan ke Suriah, Abu Bakar mengutus empat panglima, yaitu Abu Ubaidah, Yazid Ibn Abi Sufyan, Amr Ibn As dan Syuhrabil.

Ekspedisi ke Suriah ini memang sangat besar artinya dalam konstalasi politik umat Islam, karena daerah protektorat itu merupakan front terdepan wilayah kekuasaan Islam dengan Ramawi timur. Faktor penting lainnya dari pengiriman pasukan besar-besaran ke Suriah ini sekaligus dimpimpin oleh empat panglima adalah karena umat Islam memandang suriah sebagai bagian integral  dari semenanjung Arab.

  1. Umar Ibnu Khattab (13-23 H/634-643 M)
    1. Riwayat hidup

Umar Ibnu Khattab putra dari Nofail al Quraisyi, dari suku Bani Adi ini terkenal sebagai suku yang dikenal mulia, megah dan kedudukan tinggi[3]

Sebagaimana diketahui bahwa Umar Ibnu khattab adalah sahabat Nabi yang dikenal sebagai sosok yang keras hati dan kasar serta sosoh yang pemberani. Kemudian sebelum masuk Islam dia juga dikenal sebagai orang memusuhi Islam dan menyiksa kaun mukminin. Ketika dia hendak masuk Islam dia adalah musuh dan penentang Nabi Muhammad SAW, yang paling ganas dan kejam, bahkan sangat besar keinginannya untuk membunuh Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya.

Dalam perjalanan hendak menjumpai Rasulullah dia bertemu dengan Na’im bin Mas’ud, dia salah seorang yang telah beriman. Dia khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Umar, maka dia pun berkata pada Umar. Apakah kamu tidak memulai dengan keluarga mu sendiri ? Sesungguhnya Fatimah dan suaminya  Said bin zaid telah masuk Islam, sepulangnya kerumah dia mendengar suara Fatimah membaca Al-Qur’an. Berawal dari itulah dia masuk Islam dan menjumapai Rasulullah, rasulullah sangat gembira dengan masuk Islamnya Umar.

Kepemimpinannya

Dengan berbekal semangat Nabi Muhammad SAW pernah memprediksikan Islam terus berkembang di luar  Jazirah Arab, maka pasuka Islam keluar untuk mendakwahkan Islam. Mareka memperebutka pelabuhan kaya dan ramai di Alexandria dan Bizantium dan Romawi[4]

Dengan demikian Pemerintahan dimasa Khalifah Umar Ibnu Khatab semangkin kuat, maka dikalangan Bizantium dan Sasania muncul kecemburuan. Khalifah menekan bahwa setiap prajurit lebih mendahulukan sepirit dalam penaklukan dan perampasan harta perang.

Selama sepuluh tahun pemerintah Umar Ibnu Khattab (13 H./ 634 M-23 H/664 M), sebahagian besar ditandai oleh penaklukan-penaklukan untuk melebarkan pengaruh Islam keluar Arab.[5]

Pada awal pemerintahannya Umar Ibnu Khatab telah berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan imperium Romawi  dan Persia, pembebasan itu bukan saja menyangkut kepentingan agama bahkan juga kepentingan politik. Ada beberapa factor yang menimbulkan konflik antara bangsa Romawi dan Persia terhadap umat Islam:

  1. Bangsa Romawi dan Persia tidak menghormati niat baik umat Islam.
  2. Ketika Islam masih lemah, Ramawi dan Persia selalu mengobrak – abrik Islam.
  3. Romawi dan Persia tidak mau menjalin hubungan perdagangan dengan negeri Arab karna mareka menganggap negeri mareka paling subur dan makmur.
  4. Bangsa Romawi dan Persia selalu mendukung musuh-musuh Islam dan menghasut suku-suku Badui.
  5. Letak geografis Romawi dan Persia sangat strategis dalam kepentingan dan pertahanan islam.

Semejak penaklukan Persia dan Romawi, pemerintah Islam menjadi adi kuasa  dunia yang menjadi wilayah yang luas, meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Siria, Irak, Persia, dan Mesir.[6]

Dari penjelasan diatas bahwa Umar Ibnu Khattab sebagai seorang negarawan administrator terampil dan pandai dan juga belaiau membuat struktur kekuasan administrasi negara Madinah.

Ada beberapa jawatan yang dibuatnya, antara lain ;

  1. Dewan Al-Kharraj ( Jwatan pajak)
  2. Dewan Al- Addats (Jawatan Kepolisian)
  3. Nazar Al-Nafiat (Jawatan pekerjaan Umum)
  4. Dewan A- jund ( Jawatan Militer)
  5. Bai’at Al-Mal ( Lembaga Pembedaharaan Negara)

Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)

    1. Riwayat Hidup

Utsman bin Affan bin Abi ‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syam beliau bersal dari bani Umayyah dari kalangan terpandang dari antara mareka, Usman adalah pedagang yang terpandang lagi dermawan dan juga beliau seorang yang terkaya baik sebelum Islam maupun sesudah Islam.

Beliau bertalian Akrab dengan Rasulullah, maka Rasulullah mengawinkan dengan putrinya yang bernama Ruqaiyah. Setelah Ruqaiyah meninggal diwaktu peperangan Badart, maka Nabi mengawinkan dengan putrinya yang kedua yaitu Ummu Kulsum.[7] Usman bin Affan juga dikenal dengan julukan  “DzurNurain” (yang mempunyai dua cahaya), pada tahun 9 Hijriah Ummu Kulsum meninggal dunia.

Kepemimpinannya

Masa pemerintah Utsman dipenuhi dengan penaklukan-penaklukan sebagai penyempurna penaklukan pada pemerintah Umar.[8] Penaklukan yang dilakukan baik diwilayah Barat maupun di wilayah Timur bukan saja jalur darat akan tetapi juga dilancarkan lewat jalur laut. Pada tahun          25 H/645 M pembrontakan orang-orang Iskandariah lalu ditaklukan oleh ‘Amru bin Ash, selanjudnya Utsman bin Affan mengizinkan pasukan Islam  untuk penaklukan benua Afrika, Abdullah bin Abi Sarah saat itu berhasil menaklukkan Tharablis, lalu mareka berhadapan dengan pasukan Byzantium di Sabithalah dan mampu mengalahkan mareka pada tahun    27 H/647 M. Dengan demikian bergabunglah Barqah, tharablis dan wilayah Barat Mesir serta sebahagian Nawbah pada pemerintahan Islam. Sedangkan penaklukkan ke Siplus oleh Mu’awiyah berhasil di taklukkan pada tahun 28 H/648 M . Penyerbuan yang dilakukan oleh pasukan Islam melalui laut tidak diizinkan oleh Umar bin Khattab sedangkan Usman bin Affan mengizinkannya.

Perang Dzatus Shawari adalah perang laut yang pertama kali yang dialami oleh kaum muslimin, sejak pemerintahan Usman bin Affan kaum muslimin telah memiliki pasukan laut. Pasukan Islam yang dipimpin oleh Abdullah bin Abu Sarah yang diutus oleh Muawiyah bin Abi Sofyan berhadapan dengan pasukan Rumawi di pantai kilikiya, pada saat itu pasukan Rumawi mengalami kekalahan, Kaisar Konstantin sebagai palima Romawi pada waktu itu terbunuh.

Sedangkan di wilayah Timur Panglima Umair bin Utsman sampai Farghanah , Abdullah al-Laits sampai ke Kabul, dan Abdullah At- Tamimi sampai ke sungai Hindustan. Said Ibnul ‘Ash berhasil menaklukkan Jurjan.

Abdullah bin Amir berhasil mematahkan pebrontah Persia, Yazdajir melarikan diri ke Karman dan ke Krurasan  akhirnya dia terbunuh ditempat.

Demikian penaklukan yang terjadi pada Khalifah Utsman bin Affan dan akhirnya Afrika, Siprus, Armenia, Sind, Kabul dan Afghanah, Balakh dan Herat di Afghanistan  menjadi wilayah dalam pengakuan Islam.

Ali bin Abi Thalib (35-40 H/656-661M)

    1. Riwayat hidup

Beliau ialah Ali ibnu Abi Thalib ibnu Abdil Mutthalib, putra dari paman Rasulullah dan suami dari puteri beliau Fatimah. Fatimah adalah satu-satunya puteri Rasulullah yang ada mempunyai keturunan. Dari pihak Fatimah inilah Rasulullah mempunyai keturunan sampai sekarang.[9]

Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Muhammad  di asuh oleh Abu Thalib setelah  Abdul Muthalib meninggal, lalu karena ingin menolong dan membalas jasa maka ali menammbil Nabi Muhammad SAW diasuh dan dididiknya.

Takkala Nabi Muhammad diutus menjdi Rasul Ali bin Abi Thalib beliau orang pertama yang menyatakan keimanannya kepda Rasulullah Muhammad SAW. Ali bin Abi thalib sejak kecilnya beliau telah didik dengan akhlaq yang mulia dan pengetahuan dalam agama Islam sangat kuat, beliau selalu mendampingi Rasulullah lebih-lebih dalam peperangan.

  1. Kepemimpinannya

Setelah Usman bin Affan wafat maka masyarakat membai’at Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Pada masa kekhalifahan Ali, para Gubernur yang diangkat pada masa kekhalifahan Usman dipecat, karena Ali menganggap sebagai provokator untuk menuntut turun dari jabatan politik. Pada masa Ali bin Abi Thalib menarik kembali tanah yang dihadiahkan kepada para pendukung Usman dan hasil tanah tersebut diserahkan ke kas negara. Dan Ali pun berusaha mengembalikan pemerintahan Islam seperti di masa Umar bin Khattab,  kemudian Ali memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kuffah dikarenakan para pengikut Ali banyak berada di Kuffah saat itu. Pemerintahan Khalifah Ali dapat dikatakan pemerintah yang tidak stabil karna adanya pembrontakan dari sekelompok  kaum muslimin sendiri. Pertama datang dari peberontak Thalhah dan Zubair  dan diikuti oleh Siti Aisyah lalu terjadilah perang Jamal. Peberontak yang kedua datang dari Muawiyah, yang menolak meletakkan jabatan bahkan menyatakan diri setingkat dengan Khalifah walaupun ia sebagai gubernur Suriah yang berakhir dengan perang Shiffin. Setelah Khalifah menyelesaikan pembrontakan Thalhah dan Zubair, pusat pemerintahan Islam dipindahkan ke Kufah, Selanjudnya peperangan antar umat Islam terjadi lagi antara Khalifah Ali dengan Muawiyah, perang ini terjadi karena Khalifah Ali ingin menyelesaikan pemberontakan Muawiyah yang menolak peletakan jabatan dan secara terbuka menentang Khalifah dan tidak mengakuinya, namun atas kecerdikan Muawiyah yang dimotori oleh panglima perangnya Amru bin ‘Ash yang mengacungkan Al-Qur’an dengan tombaknya, yang berarti  mareka mengajak perdamaian dengan mengunakan Al-Qur’an. Khalifah Ali mengetahui  bahwa hal tersebut adalah tipu muslihat, namun karena didesak oleh pengikutnya  Khalifah Ali menerima tawaran tersebut, akhirnya terjadilah peristiwa tahkim yang secara politik Khalifah Ali menalami kekalahan, karena Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wakil Khalifah menurunkan Ali sebagai Khalifah,  sedangkan Amru bin ‘Ash tidak menurunkan Muawiyah sebagai gubernur Suriah, bahkan menjadikan kedudukannya setingkat dengan Khalifah. Penyelesaian kompromis Ali dengan muawiyah  tidak disukai oleh kaum pembrontak karena hal ini tidak membebaskan Khalifah untuk memusatkan perhatiannya  pada tugas untuk menghukum mareka, kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh Ali, Abdurrahman pengikut setia  kaum Khawarij , memberikan pukulan yang hebat kepada Ali sewaktu ia akan azan dimesjid. Pukulan itu yang mengakibatkan Khgalifah Ali wafat pada tanggal 17 Ramadhan 40 H.[10]


[1]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), h. 77.

[2]Hassan Ibrahim Hassan, Sejaran dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), h. 34.

[3] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, ( Jakarta: Pustaka Alhusna, 1992), h. 236.

[4]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam…, h. 85.

[5] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Cv Pustaka Setia,  2008) h.80.

[6]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,  h. 82.

[7]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam…, h. 266.

[8] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adamhingga abad XX, (Jakarta Timur: Akbar Media, 2010), h. 2010.

[9]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam…, h. 281.

[10]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam…,  h. 97-100.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.