Tasauf dalam Islam

  1. A.      Pengertian Tasauf

Kata Tasauf berasal dari Bahasa Arab yaitu   berarti mempunyai bulu yang banyak. Kemudian kata itu terjadi perubahan kapada  mazid (tambahan) dua huruf “Ta” dan “Tasydid waw” sehingga menjadi yang mengandung arti “menjadi” maka arti tasuf adalah menjadi sufi, karena pada masa  awal-awalnya  para sufi senang memakai pakai pakaian sederhana yang terbuat dari bulu domba. Maksud nya orang-orang sufi pada awalnya senag berpakaian bulu domba (pakaian kasar) sebagai saingan dari memakai pakaian halus sutra dan sebagainya.[1]

Dalam perjalanan sejarah dan perkembangannya, asal-usul dan pemahamannya, para ulama terbagi menjadi beberapa pendapat, diantaranya:

  1. Tasauf adalah mengikhlaskan amal hanya untuk Allah ta’ala, zuhud terhadap dunia, meninggalkan ajakan-ajakan syahwat dan condoh kepada sifat tawadhu’, lembah-lembut dan menyingkirkan syahwat dari jiwa.
  2. Ada juga ulama yang mendifinisikan bahwa tasauf diambil dari kata”            “ yaitu dinisbahkan pada pakaian yang sering mareka pakai yaitu kain woll yang menunjukkan kezuhudan mareka terhadap dunia dan kenikmatannya.
  3. Ada juga berpendapat bahwa Tasauf diambil dari kata “shafa’u” (                 ) yang berarti jernih. Maksudnya bersihkan hati dan jiwa mareka dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.[2]

Menurud Syekh Muhammad Amin Al-kudry: (Tasauf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ikhwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan Nya.[3]

Menurud Abu Bakar Al-Kattaany: Tasuf adalah budi pekerti: Barang siapa yang memberi budi pekerti atasmu, berarti dia memberikan bekal atas dirimu dalam tasauf. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal, maka sesungguhnya mareka melakukan suluk dengan nur (petunjuk) Islam. Dan ahli zuhud dan jiwanya menerima (perintah) untuk melakukan akhlak (terpuji), karena mareka telah melakukan suluk dengan nur(petunjuk) imannya.[4]

  1. B.       Tasauf Menurut Hasan Al-Basri (22H-110H).

Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa, wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H.

Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.[5]

Kata-kata hikmah yang pernah dilontarkan kepada murid-muridnya antara lain:

  1. Perasaan takut hanya mengarah kepada perasaan tentram, lebih baik dari pada perasaan tentram yang akan menimbulkan perasaan takut.
  2. Tafakkur membawa kita kepada kebaikan yang akan dikerjakan. Menyesal atas kesalahan, berarti kitasadar akan meninggalkannya. Barang siapa yang fana (binasa), tidak dapat mengalahkan barang yang baqaa (tetap), meskipun yang fana itu lebih banyak dari pada yang baqaa. Maka jagalah dirimu dari sesuatu yang menjadi tipuan bagimu.
  3. Orang yang beriman selalu berduka cita, karena ia hidup antara dua ketakutan: yaitu mengenang dosanya yang telah lalu dengan segala ganjarannya kelak, serta takut ketika memikirkan dosa yang mungkin akan diperbuatnya.
  4. Akhir kehidupan dunia merupakan awal kehidupan akhirat dan kubur.
  5. Manusia harus sadar bahwa kematian sedang menghadangnya, hari kiamat akan menempatinya, dan hamba akan dihadapkan kepada pengadilan di akhirat.[6]

Diantar ajaran tasauf Hasan Al-Bashri dan senan tiasa yang menjadi buah bibir kaum sufi adalah:

“ Anak Adam” !

Dirimu, diriku !

Dirimu hanya satu,

Kalau ia binasa, binasalah engkau

Dan orang yang sudah selamat tak bisamenolongmu.

Tiap-tiap nikmat yangbukan surga, adalah hina.

Dan tiap-tiap bala bencana yang bukan neraka adalah mudah.[7]

  1. C.      Tasauf Menurut Ibrahim bin Adham

Ibrahim Ibnu Adham adalah seorang sufi dari Balk, Khurasan, pernah bersahabat dengan pertapa-pertapa Kristen. Dari marekalah ia mendapatkan pengetahuan sejati tentang tuhan. Dikisahkan ia mencapai ma’rifah (pengetahuan yang benar) dengan berguru kepada Bapa Simeon, seorang rahib kristen. Pengalaman sritual yang dialami oleh Ibrahim ibnu Adham dalam perjumpaan dengan gurunya membuktikan bahwa bagi sufi ini ma’rifah dan hikmah (kebijaksanaan) boleh di ambil oleh guru yang bukan beragama Islam. Meskipun demikian, tokoh yang kisah peralihannya kepada kehidupan zuhud sering dibandingkan dengan kisah Budha Gautama ini tidak berpindah kepada agama guru itu, kristen. Masing-masing tetap berpegang kepada agamanya sendiri.

Ibrahim Ibnu Adham meninggalkan kehidupan mewah istana menjadi seorang zahid. Ia menghindari kesenangan dan kemewahan hidup duniawi. Ia pindah satu tempat ketempat yang lain untuk melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah. Dikisahkan ia pernah bekerja sebagai tukang kebun dan tukang memotong kayu api. Dengan uang yang diperolehnya ia membeli roti, ia membagi dua roti itu, separoh ia berikan kepada orang miskin dan separohnya lagi ia makan sendiri. Di antara-ucapan-ucapannya yang terkenal adalah “ Cinta kepada dunia mengakibatkan orang menjadi tuli lagi buta dan membuatnya menjadi Budak”. “ Kefakiran adalah harta yang disimpan tuhan di syurga dan tidak Dia anugerahkan kecuali kepada orang-orang yang Dia cintai”. ‘ Orang kaya didunia akan menjadi miskin di akhirat. Tuhan tidak akan mengadakan perhitungan dengan orang miskin. Perhitungan akan dilakukannya dengan orang kaya”.[8]

  1. D.      Tasauf Menurut Rabiah Al-Adawiyyah

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah yang nama lengkapnya adalah Ummul Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyyah adalah satu di antara para sufi Basrah yang paling terkenal, Beliau juga termasuk dalam daftar tokoh-tokoh sufi (zahid) abad pertama dan kedua hijriah.Beliau dilahirkan sekitar awal abad kedua Hijriah mungkin sekitar tahun 95-99 H / 713 – 717 M, di kota Basrah, Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin harta  namun taat. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
Menjelang dewasa, ujian tak jua berhenti menerpanya. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Ketika kedua orang tuanya meninggal, dia dijual sebagai budak, tetapi akhirnya dibebaskan oleh tuannya karena kesufian dan kesalehannya. Sejak kecil Rabi’ah memang berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam. Cinta dan gairah Rabiah kepada Allah sangat dalam, hingga tidak ada satupun ruangan yang tertinggal di hati maupun pikirannya untuk pikiran atau kepentingan lain. Rabi’ah hidup zuhud dan sangat dekat dengan Tuhan. Banyak beribadah, bertaubat, menjauhi hidup duniawi dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya.
Memasuki usia lebih dari 90 tahun, Rabi’ah, wanita sufi Basrah yang terkenal dengan ibadah, kedekatan, dan kecintaannya kepada Tuhan, menurut riwayat, beliau wafat tahun 185 H/801 M.

Ajaran tasawuf yang dibawanya itu dikenal dengan istilah al-Mahabbah. Hampir seluruh literature bidang tasawuf menyebutkan           bahwa  tokoh yang memperkenalkan ajaran mahabbah ini adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Hal ini didasarkan pada ungkapan-ungkapan nya yang             menggambarkan bahwa Ia menganut paham tersebut.
Paham ini merupakan kelanjutan dari tingkat kehidupan zuhud yang di kembangkan oleh Hasan al-Basri, yaitu takut dan pengharapan dinaikkan oleh Rabi’ah menjadi zuhud karena cinta (cinta yang suci). Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan. Ia banyak beribadat, bertobat dan bertobat dan menjauhi hidup duniawi, dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan ada do’a-do’a beliau yang isinya tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari tuhan. Hal ini dapat dilihat dari ketika teman-temannya ingin memberi rumah kepadanya, Ia mengatakan: “ Aku takut kalau rumah akan mengikat hatiku, sehingga aku terganggu dalam amalku untuk akhirat”. Kepada seorang pengunjung Ia memberi nasihat: “Memandang dunia sebagai sesuatu yang hina dan tak berharga, adalah lebih baik bagimu”.                                    Segala      lamaran   cinta pada dirinya, juga ditolak, karena   kesenangan duniawi itu akan memalingkan perhatian kepada akhirat.[9]

Sikap dan pandangan Rabi’ah Al-adawiyyah tentang cinta dipahami dari kata-katanya, baik secara langsung maupun yang disandarkan padanya. AlQusyairi meriwayatkan ketika memunajat, Rabi’ah berdoa, Tuhanku, akankah kau bakar kalbu yang mencintai Mu olehapi neraka?, Tiba-tiba terdengan suara, “ Kami tidak akan melakukan itu jangan lah engkau berburuk sangka kepada kami.”

Di antara syair cinta Rabi’ah yng paling masyhur adalah:

            “ Aku Mencintai Mu dengan dua cinta,

            Cinta karena diriku dan diri Mu

Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan Mu,

Cinta karena diri Mu

Adalah keadaan ku mengungkapkan tabir sehingga engkau kulihat

Baik ini maupun itu, pujian bukanlah bagiku

Bagi Mu pujian untuk kesemuanya.”


[1]Damanhuri,Akhlak Tasauf, (Banda aceh: Yayasan Pena, 2010), h. 1.

[2]Tim Ulin Nuha Ma’had ‘Aly, Dirasatul Firaq, (Surakarta, Pustaka Arafah, 2003), h. 178

[3]Damanhuri,Akhlak Tasauf,… h. 2.

[4]Damanhuri,Akhlak Tasauf,… h. 2.

[6] Damanhuri Basyir, Ilmu Tasauf, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005), h. 21.

[7] M. Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasauf, (Bandung: pustaka Setia, 2008), h. 125

[8]Kautsar Azhari noer, Tasauf perenial, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu semesta, 2003), h.6.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.