Teknologi dan Sistem Ekonomi Modern

  1. A.      Sentuhan Teknologi dan Sistem Ekonomi Modern

Baik di Timur apalagi di Barat, agama, karena mengandung ajaran-ajaran absolut, sudah umum di pandang bersifat statis, dan dengan demikian tidak sejalan, bahkan bertentangan dengan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dinamis. Di sini dipertentangkan antara sifat statis yang dijumpai dalam agama dan sifat dinamis yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama pada zaman moderen ini, mengalami banyak perubahan yang sangat cepat, sedang agama bergerak dengan lambat sekali. Karena itu terjadi ketidakserasian  antara agama dan ilmu pngetahuan dan teknologi.

Pertentangan itu terdapat bukan hanya antara agama dan ilmu pengetahuan modern yang erat hubungannya dengan kemajuan yang dicapai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi moderen. Semua itu menimbulkan nilai-nilai baru yang tidak sedikit diantaranya berlawanan dengan nilai-nilai lama yang dipertahankan agama. Pertentangan-pertentangan dunia yang sedang berkembang  yang masih mencari atau memantapkan identitasnya memang dapat mengacaukan dan dapat menimbulkan instabilitas.

Dalam membahas masalah pertentangan antar agama disatu pihak, dan ilmu pengetahuan serta teknologi, idiologi serta nilai-nilai modern dilain pihak, perlulah diketahui hakikat agama itu sendiri.[1]

  1. B.       Sentuhan Sistem Pendidikan Barat

Seperti yang ditulis sebelumnya bahwa tujuan pendidikan itu tidak bisa lepas dari tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Dengan begitu tujuan pendidikan harus berpangkal pada tujuan hidup.

Di Barat, pendidikan menjadi ajang pertarungan ideologis dimana apa yang menjadi tujuan pendidikan – secara tidak langsung merupakan tujuan hidup berbenturan dengan kepentingan-kepentingan lain . Di sinilah perbedaan pendapat para filosof Barat dalam menetapkan tujuan hidup. Orang-orang Sparta salah satu kerajaan Yunani lama dahulu berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut orang-orang Sparta adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan Sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan mempertegus jasmani. Oleh sebab itu orang-orang yang kuat jasmaninya, bisa berkelahi dengan harimau dan singa disanjung-sanjung, dianggap pahlawan di masyarakat Sparta.

Sebaliknya orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran (truth), dan kalau bisa menyirnakan diri pada kebenaran itu. Tetapi apakah kebenaran itu? Plato lebih dulu mengandaikan bahwa benda, konsep-konsep dan lainnya bukanlah benda sebenarnya. Dia sekedar bayangan dari benda hakiki yang wujud di alam utopia. Manusia terdiri dari roh dan jasad. Roh itulah hakikat manusia, maka segala usaha untuk membersihkan, memelihara, menjaga dan lain-lain roh itu disebut pendidikan.

Madzhab-madzhab pendidikan eropa Barat dan Amerika sesuah Decartes (1596-1650) mengambil dari kedua madzhab Yunani lama tersebut, dan semua madzhab beranggapan bahwa dunia inilah tujuan hidup sehingga ada yang mengingkari sama sekali wujud Tuhan dan hari akhir. Ada madzhab rasionalisme yang berpangkal pada Plato, Aristoteles, Descartes, Kant, dan lainnya; ada madzhab impirisme yang dipelopori oleh John Locke yang terkenal dengan kerta putih (tabu rasa); ada madzhab progressivisme yang dipelopori oleh John Dewey yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah lebih banyak pendidikan; ada madzhab yang berasal dari sosiolog, yaitu sosiologi pengetahuan yang menitik beratkan budaya; selanjutnya ada madzhab fenomenologi atau eksistensialisme yang beranggapan bahwa pendidikan seharusnya bersifat personal, oleh sebab itu sekolah tidak ada gunannya dan harus dibubarkan. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT yang menggambarkan orang-orang Dahriyyun (Naturalist), “Mereka berkata tidak ada hidup kecuali hidup kita di dunia ini. Kita mati kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa. Sedangkan mereka dalam hal ini tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah menyangka-nyangka” (QS.45:23).

Tokoh pendidikan Barat, John Dewey berpendapat tentang tujuan pendidikan berdasarkan pada pandangan hidup, “Since there is nothing to which growth is relative save more growth, there is nothing to which education is subordinate save more education. The education process has no end beyond itself – it is its own end”.

Madzhab yang dibawa oleh Dewey ini terkenal dengan nama Pragmatisme dalam falsafah, sedangkan dalam pendidikan disebut Progressivisme yang terlalu menitik beratkan kepada kegunaan (utilitarian).

Hegemoni peradaban Barat boleh dikata hampir lengkap terutama sekali dalam bidang pendidikan. Volume penyelidikan dalam berbagai aspek pendidikan sangat mengagumkan. Disamping itu kemajuan yang telah dicapainya memberi pengaruh pada masyarakat dunia umumnya – hal yang membanggakan kalangan elit yang memerintah dan masyarakat Barat. Pada abad ke-21 ini, orientasi tujuan pendidikan Barat mulai beralih pada usaha mencari keuntungan dengan jalan apa pun, yang bermakna eksploitasi, kekuasaan, pertarungan, teror dan pembunuhan.

Melalui pendidikan, kaum pemodal (kapitalis) dan pedagang menyebarkan paham rasionalisme dan liberalisme untuk melawan tatanan feodal (kerajaan) yang ada dan menghalangi perkembangan kapital untuk mencari keuntungan. Dalam masyarakat kapitalistik dewasa ini, begitu mudahnya suatu kelas sosial mendapatkan apa saja yang menjadi kebutuhannya dan kehendak bebasnya (free will), dan hampir dengan cara apa pun.

Paul Johnson, seorang ahli sejarah Inggris mengakui dilema moral yang dihadapi oleh kapitalisme, namun menurutnya kapitalisme adalah sebuah kekuatan natural bukan ideologi yang dibuat-buat. Ia berasal dari naluri yang masuk ke dalam sifat manusia dan selalu merubah diri, serta akan menggantikan sesuatu yang berbeda secara fundamental. Namun, usaha Johnson untuk mencari solusi terhadap dilema moral dari kapitalisme tidak pernah jauh dari akar warisan peradaban Barat. Menurutnya, “kita berada pada sistem etika Yahudi-Kristen yang mengharuskan kita memiliki idea-ide yang subur dalam pertempuran pemikiran di masa datang.

Di tengah-tengah pesta pora kemenangan kapitalisme dan semua subsistemnya, muncul kesadaran yang mendalam dan jujur tentang kegagalan yang dihadapi Barat, terutama dalam bidang fisafat pendidikan dan lembaga pendidikan. Dalam buku The Cultural Contradisional of Capitalism, Daniel Bell (1976) menulis sebagai berikut, Dalam budaya, sebagaimana juga dalam politik, liberalisme sekarang ini menghadapi rintangan berat. Tatanan sosial yang tidak memiliki ciri, baik budaya yang merupakan pernyataan simbolik terhadap vitalitas manapun, atau pendorong yang bersifat motivasi atau kekuatan pemersatu.

Analis Bell tentang penyakit kapitalisme berkisar pada apa yang disebut disjuction of realm, yaitu ketegangan antara hal-hal yang bersifat ekonomi, budaya dan politik. Tokoh Barat lainnya, Alam Bloom meringkaskan sistem pendidikan Amerika, yaitu filsafat, asas-asas dan kurikulum dalam bukunya berjudul Closing of America Mind. Menurutnya, relativisme dan pragmatisme menguasai pentas budaya dan pendidikan Barat. Seperti dinyatakan oleh Bloom bahwa hampir setiap pelajar di Barat (AS) percaya kebenaran itu relatif dengan latar belakang para pelajar – Sebagian agamis, sebagian atheis, sebagian condong ke kiri, yang lain ke kanan, sebagian miskin, sedangkan yang lain kaya. Mereka hanya bersatu dalam relativisme dan kesetiaan pada persamaan.

Karakteristik Pendidikan Barat

                   Dalam pendidikan Barat, ilmu tidak lahir dari pandangan hidup agama tertentu dan diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai. Namun sebenarnya tidak benar-benar bebas nilai tapi hanya bebas dari nilai-nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan. Menurut Naquib al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah . Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-ilmu sekular.

Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat, pertama, menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia; kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran; ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; empat, menggunakan doktrin humanisme; dan kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan . Kelima faktor ini amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di Barat.

Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Perancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran. Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya.[2]

       Perbedaan Ciri-ciri dari Filsafat Pendidikan Islam Dan Barat

 ASPEK-ASPEK

PENDIDIKAN BARAT

PENDIDIKAN ISLAM

Proses Belajar Mengajar Karena sekularistik-materialistik, maka motif dan objek belajar-mengajar semata-mata masalah keduniaan Aktivitas belajar-mengajar ialah amal ibadah, berkaitan erat dengan pengabdian kepada Allah
Tanggung  jawab belajar mengajar Semat-mata urusan manusia Disamping tanggungjawab kemanusiaan, juga tanggungjawab keagamaan. Karena dalam belajar mengajar, terdapat hak-hak Allah dan hak-hak makhluk lainnya pada setiap individu, khususnya bagi orang yang berilmu

Kepentingan Belajar

Belajar hanyalah untuk kepentingan dunia, sekarang dan di sini Belajar tidak hanya untuk kepentingan hidup dunia sekarang, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat nanti
Konsep Pendidikan Barat pada umumnya tidak mengaitkan pendidikan dengan pahala dan dosa. Ilmu itu bebas nilai (values free). Islam mengaitkannya dengan pahala dan dosa karena kebajikan dan akhlak mulia merupakan unsur pokok dalam pendidikan Islam.
Tujuan Akhir Pendidikan Hidup sejahtera di dunia secara maksimal baik sebagai warga Negara maupun sebagai warga masyarakat. Terwujudnya insan kamil (manusia sempurna dan paripurna), yang pembentukannya selalu dalam proses sepanjang hidup (has a beginning but not an end).
  1. c.         Pengaruh Pemikiran Islam Modern dari Barat

Pada abad ke -19 dan ke – 20, dasar-dasar pemikiran politik Islam sedikit mengalami sedikit perubahan dan perkembangan. Meskipun ada gagasan baru dari cendikiawan, Islam moderen tidak melahirkan pemikir seperti Thomas Aquinas atau Martin Luther. Meski demikian kita melihat beberapa upaya adaptasi dan strategi-strategi baru. Ciri khas metode ini adalah dominasi barat dalam pemikiran politik. Di satu sisi, pemikiran politik Barat dijadikan sebagai model bagaimana suatu masyarakat dapat dan seharusnya berkembang, sementara disisi lain, ia dianggap suatu yang asing dan layak dimusuhi. Suatu pengecualian adalah teologi politik syiah, yang berkembang dengan cara-cara baru, dn mengikuti momentumnya sendiri.                     Sebagian intelektual Islam menjawab Hegemoni Barat dengan dengan menampilkan sinkretisme dengan berapologi bahwa beberapa ide Barat merupakan ekspresi Islam yang sebenarnya, dan sebahagian yang lain meresponnya dengan revalisme, yaitu kembali kesumber wahyu. Gerakan modernisme dan fundamentalisme Islam didorong oleh soperioritas Eropa dalam bidang teknologi dan militer, serta penetrasi dan eksploitasi ekonomi yang mareka lakukan. Keberadaan kelompok-kelompok ini ditentukan, atau mareka tentukan sendiri sebagai modernis atau fundamentalis dari cara pandang mareka terhadap Barat. Modernisme merupakan gerakan yang mengadaptasikan ide-ide dan praktek agama  dengan prestasi dan kemajuan Barat, dan kemudian berusaha ia mengembangkan sendiri. Sementara fundamentalis adalah gerakan kembali ke praksis yang dianggap Islam yang orisinal sebagai sebuah cara untuk melawan Barat. Fundamentalis muncul setelah modernisme, namun tidak mengantikannya. Dewasa ini, kedua gerakan ini hidup dan dipraktekkan oleh masing-masing pendukungnya.            Kedua gerakan ini menisyascayakan reevaluasi terhadap sejarah kebuayaan Islan dan Eropa. Asparisi yang lazim mendasari keduanya adalah kehendak kuat untuk menghidupkan Islam dengan kembali ke prinsip-prinsip awalnya. Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunah. Tujuan punjak keduanya adalah melepaskan Islam dari hegemoni Barat. Titik perbedaan antar keduanya terletak pada pandangan modernisme  yang menganggap prinsip-prinsip dasar Islam identik dengan nilai-nilai politik liberalisme parlementer Barat, nilai-nilai yang telah meresap di negara-negara Islam berekat depotisme-fenomena Muawiyah dan yang, menurut mareka, telah diadopsi oleh bangsa Eropa.

Kemunduran negara imperium Islam dan kolonealisme Barat, seiring dengan membaiknya komonikasi yang menyurupai kemajuan Eropa, ternyata ikut berperan dalam menyatukan kembali dar al-Islam. Kini, ada upaya kerja sama antara kalangan reformis Sunni dan Syi’ah. Selain itu, kesadaran umat islam tentang apa yang tenganh terjadi berbagai belahan Dunia Islam lebih besar dari pada sebelumnya.[3]

  1. 1.        Pengaruh Organisasi HMI

HMI merupakan organisasi mahasiswa yang berlabelkan “islam” pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun individu-individu yang pernah dikader di HMI.

Jika dinilai dari perspektif hari ini, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Namun jika dinilai dari standar tujuan organisasi-organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI itu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, tetapi berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya. Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia (KMI) 20-25 Desember 1949 di Jogjakarta yang dihadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI (Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56). Artikel tersebut berjudul “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia”.

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang mengamalkan ajaran islam itu sebagai kewajiban yang diadatkan seperti upacara kawin, mati dan selamatan. Kedua, golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketiga, golongan alim ulama dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Pengaruh mistik ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia (ekonomi, politik, pendidikan). Sedangkan golongan keempat adalah golongan kecil yang mecoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, supaya agama itu

benar-benar dapat dipraktekan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini. Lafran sendiri meyakini bahwa agama islam dapat memenuhi keperluan-keperluan manusia pada segala waktu dan tempat, artinya dapat menselaraskan diri dengan keadaan dan keperluan masyarakat dimanapun juga. Adanya bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda masyarakatnya, yang terganting pada faktor alam, kebiasaan, dan lain-lain. Maka kebudayaan islam dapat diselaraskan dengan masyarakat masing-masing.
Sebagai muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), kamis 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Namun ia juga tidak menolak beragam pandangan tentang pancasila, Lafran mengatakan dalam pidatonya:” Saya termasuk orang yang tidak setuju kalau Pemerintah atau MPR mengadakan interprestasi yang tegar mengenai pancasila ini, karena dengan demikian terikatlah pancasila dengan waktu. Biarkan saja setiap golongan mempunyai interpretasi sendiri-sendiri mengenai pancasila ini. Dan interpretasi golongan tersebut mungkin akan berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman. Adanya interpretasi yang berbeda-beda menunjukan kemampuan pancasila ini untuk selam-lamanya sebagai dasar (filsafat) Negara “.

Dari tulisan diatas nampak Lafran sangat terbuka terhadap beragam interpretasi terhadap pancasila, termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral, etika, sosial maupun egalitarianisme. Egalitarianisme ini adalah faktor yang paling fundamental dalam Islam, semua manusia sama tanpa membedakan warna kulit, ras, status sosial-ekonomi. Wajah islam yang seperti ini selazimnya dapat dibingkai dalam wadah keindonesiaan. Wawasan keislaman dalam wadah keindonesiaan akan sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Untuk kepentingan manusia kontemporer diseluruh jagat raya ini sebagai rahmatan lil alamin.

Setiap 25 Januari, sebuah organisasi bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan mengenang satu orang: Prof. Drs. H. Lafran Pane. Dia pemrakarsa berdirinya HMI, organisasi yang banyak melahirkan sumber daya manusia (SDM) terbaik di negeri ini, juga punya andil besar terhadap lahirnya proklamasi. Pada 25 Januari 1991, beliau meninggal dunia. Singkat kata, Lafran Pane Layak dijadikan tokoh nasional bahkan pahlawan nasional. Kerana HMI Organisasi yang didirikannya  telah  melahirkan  tokoh-tokoh bangsa di negeri ini seperti seperti Dahlan Ranuwiharjo, Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Ahmad Syafi Maarif, Kuntowijoyo, Endang Syaifuddin Anshori, Chumaidy Syarif Romas, Agussalim Sitompul, Dawam Rahardjo, Immaduddin Abdurrahim, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Ichlasul Amal, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Bahtiar Effendy, dll,

Terdapat juga tokoh-tokoh sosial-ekonomi-politik seperti HMS Mintaredja, M,Sanusi, Bintoro Cokro Aminoto, Ahmad Tirtosudiro, Amir Radjab Batubara, Mar’ie Muhammad, Sulastomo, Ismail Hasan Metareum, Hamzah Haz, Bachtiar Hamzah, Ridwan Saidi, Jusuf Kalla, Amien Rais, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Mahadi Sinambela, Ferry Mursyidan Baldan, Hidayat Nur Wahid, Marwah Daud Ibrahim, Munir SH, Adyaksa Dault, Abdullah Hemahua, Yusril Ihza Mahendra, Syaifullah Yusuf, Bursah Jarnubi, Hamid Awwaluddin, Jimlie Asshiddiqi, Anas Urbaningrum, dan masih banyak lagi.[4]

 


[1]Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, (Bandung, Mizan,  1998), h. 291.

[3] Antony Black, Pemikiran Politik Islam…,(Serambi Ilmu Semesta, 2006), h. 503

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.